<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5975597218828598742</id><updated>2011-04-21T18:40:00.467-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Untuk Kehidupan</title><subtitle type='html'>berisi tentang masalah pendidikan, kuliah, karir</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tomie-education.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tomie-education.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Tomie Yasanda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11149146580229876594</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5975597218828598742.post-7587362282509821993</id><published>2008-11-01T11:27:00.001-07:00</published><updated>2008-11-01T11:29:41.780-07:00</updated><title type='text'>Metode Pembelajaran Quantum</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_C2Ns8ygPDkc/SQyf6xdeftI/AAAAAAAAAHo/kRO3eKCaYq4/s1600-h/Living-Learning-31808PF1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 217px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_C2Ns8ygPDkc/SQyf6xdeftI/AAAAAAAAAHo/kRO3eKCaYq4/s320/Living-Learning-31808PF1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263757896547466962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini kita masih sering melihat sistem pembelaran yang masih konvensional. Ketika guru mengajar di kelas selalu menempatkan diri sebagai pusat perhatian siswa. Disamping itu adanya kesan bahwa kegiatan mengajar hanya sebagai alat untuk mengejar target kurikulum saja dan untuk mendapatkan nilai akademik siswa. Sementara itu anak menguasai materi atau tidak guru cenderung masah bodoh.&lt;br /&gt;Pengajaran seringkali dilakukan guru hanya dengan menerangkan sambil membaca buku atau menulis di papan tulis, mendikte, mencongak, menanyakan soal kepada anak, dan memberikan ulangan harian sekalipun anak belum paham materi yang akan dites. Komposisi murid dalam kelas pun tak diperhatikan. Satu kelas bisa dijejali 30 sampai 50 murid yang duduk berbaris dari depan ke belakang tanpa memperhitungkan bahwa dengan begitu interaksi guru dan anak didik tidak akan merata. Anak didik sekadar menjadi obyek di hadapan guru, dan sebagai akibatnya anak jadi bersikap pasif. Dan anak yang didik dengan target seperti itu, tak akan mendapat gambaran mengenai kondisi kehidupan di masyarakat yang sebenarnya. Padahal, sejak masuk TK hingga lulus SMA, anak telah menghabiskan kurang lebih 15 ribu jam selama hidupnya, tapi dia tidak siap saat terjun ke masyarakat. Dalam pendidikan konvensional tidak diajarkan nilai-nilai yang bisa dipegang dan dianut, sehingga pada diri anak didik tidak terbentuk karakter yang baik. Selain itu anak didik juga tidak dibekali metode pemecahan masalah. Karena itu janganlah heran jika sekarang ini sering kita menemukan sarjana yang belum siap memasuki dunia kerja. (Nakita, 2004 : 20-21).&lt;br /&gt;Dalam Standar Nasional Pendidikan dijelaskan bahwa, standar proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaksi, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. (Peraturan Pemerintah Nomor 19, 2005 : Bab IV Pasal 19 ayat 1 ).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan diatas perlu kiranya kita mencari solusi pemecahan yang tepat untuk mengatasi permasalahan di atas. Pertanyaannya sistem pengajaran yang bagaimanakah yang dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia? Metode pengajaran yang bagaimanakah yang dapat dijadikan alternatif yang terbaik untuk anak didik kita?&lt;br /&gt;Pada makalah ini penulis mencoba menerapkan sistem quantum teaching sebagai metode pembelajaran alternatif yang diharapkan bisa diterima oleh siswa sekaligus bisa meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Pendidikan Nonkonvensional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari banyaknya kekurangan sistem pendidikan konvensional, kini para pakar pendidikan dan berbagai kalangan yang tertarik dalam bidang ini mulai mensosialisasikan metode/sistem pendidikan alternatif yang jauh berbeda dengan sistem pendidikan konvensional. Konsep pendidikan nonkonvensional menerapkan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Guru sebagai fasilitator, observer dan desainer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru menempatkan diri sebagai fasilitator ditengah-tengah anak didik yang diperbolehkan aktif mengemukakan pendapat. Dengan demikian, anak didik dapat menikmati pembelajarannya.&lt;br /&gt;Guru juga bertuga s sebagai observer dan desainer. Dalam berbicara, guru selalu menggunakan kata “maaf, tolong, permisi, terima kasih”. Contoh, “Maaf, Haris, kalau kamu dipukul rasanya bagaimana? Sakit, kan? Nah, begitu juga teman kamu yang kamu pukul itu. Sekarang kamu harusnya bagaimana?”&lt;br /&gt;Gurupun sangat menjaga kedekatan hubungan dengan anak-anak didiknya. Oleh karena itu guru harus sering berdiskusi dan berinteraksi dengan anak, sekalipun bukan mengenai pelajaran dan di luar jam pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan metode Active learning. Anak didik dibiasakan untuk mau berdialog, berbagi, dan berani mengungkapkan pendapat ataupun penemuannya, baik pada guru ataupun temannya. Sehingga mereka bisa memecahkan sebuah kasus atau permasalahan bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memperhatikan Keunikan/kebutuhan anak didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh, sebelum pelajaran dimulai diadakan dulu penawaran mata pelajaran kepaa anak-anak. Jika dalam satu hari terdapat 4 mata pelajaran, maka mereka bebas memilih pelajaran mana yang ingin dibahas dulu. Anak-anak yang mempunyai pilihan sama akan dikumpulkan dalam satu kelompok, sehingga semua anak pada hari itu bisa mempelajari semua mata pelajaran yang dijadwalkan.&lt;br /&gt;Dari itu kita bisa melihat, bahwa sistem pendidikan alternatif sama sekali tidak memaksakan anak. Dengan begitu mereka belajar berdasarkan keinginan atau minatnya saat itu. Hasilnya, topik yang dipelajari akan lebih mudah diserap anak.&lt;br /&gt;Selain itu, anak juga tak langsung dihadapkan pada materi pelajaran di kelas. Meareka sebelumnya diberi waktu bermain dan bereksplorasi di halaman sekolah atau istilahnya dilakukan zero mind. Bagaimanapun, hasrat anak bereksplorasi sangat besar. Jika hal itu idak dipuaskan atau disalurkan terlebih dahulu, bisa-bisa anak tak mampu tahan lama di kelas dan berkonsentrasi mengikuti pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ada sanksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun anak didik diberikan diberikan kebebasan seluasnya, orang tua tak perlu khawatir anaknya jadi kebal terhadap kepatuhan dan kedisiplinan. Sebab sekalipun terlihat bebas, sistem pendidikan alternatif juga menerapkan sanksi untuk anak didiknya. Bedanya dari yang konvensional, sanksi yang berlaku di sini dibuat atas kesepakatan bersama anak dengan guru. Ketika kesepakatan itu dilanggar, maka anak harus mau menanggung akibatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ciri fisik sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki halaman sekolah sebagai tempat bermain dan bereksplorasi yang memadai. Ada taman bunga, lapangan rumput dan lapangan tempat berolah raga.&lt;br /&gt;Penataan interior kelas dibuat tidak kaku, tapi mengikuti kebutuhan interaksi guru-murid yang biasanya terdiri atas 2 guru dan 15-20 murid.&lt;br /&gt;Meskipun jumlah murid di satu kelas tidak banyak, kursi dan meja yang disediakan bisa saja lebih sedikit. Misalnya, untuk kelas yang berisi 20 murid, maka kursi dan meja yang disediakan bisa saja cuma 10. Sisanya, anak bisa belajar beralaskan karpet dengan meja kecil yang ada didepan kelas, Jadi anak diberi kebebasan untuk memilih posisi tempat duduknya saat mengikuti pelajaran. Kesempatan memilih tempat duduk ini dilakukan secara bergilir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar terpenuhi kenyamanan ruang geraknya, ukuran kelas pun, disesuaikan dengan kebutuhan. Paling tidak, satu anak membutuhkan ruang gerak seluas satu meter persegi. Jadi kalau muridnya ada 16, maka luas ideal kelas adalah 16 meter persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ciri sistem pendidikan alternatif adalah menggunakan sistem pengajaran dengan metode active learning . Salah satu jenis active learning yang tengah didengung-dengungkan belakangan ini adalah quantum learning. Metode pembelajaran ini mengupayakan pengelolaan kelas yang kondusif untuk menumbuhkan sikap positif dalam proses belajar. Salah satu syarat utama untuk menciptakan kelas yang kondusif ialah guru harus memperhatikan keunikan yang dimiliki setiap anak didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam metode quantum diterapkan rumus AMBAK yang merupakan singkatan dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A : Apa yang dipelajari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelajaran menggambar, misalnya, guru hanya menetapkan pelajaran menggambar, anak didiklah yang menentukan tema gambarnya sesuai minat masing-masing. Misalnya, mereka dibawa ke sebuah lapangan lalu dibiarkan menggambar hal-hal yang disukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M : Manfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang guru lupa menjelaskan manfaat yang dipearoleh dari pelajaran yang diajarkan. Contohnya, pelajaran tentang fungsi serangga. Walaupun kecil, tanpa serangga, banyak kehidupan di alam ini bisa berhenti. Intinya guru harus memberi kemampuan memahami situasi yang sebenarnya (insight), sehingga murid tertantang untuk mempelajari semua hal dengan lebih mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAK : Bagiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat apa yang akan saya dapat di kemudian hari dengan mempelajari ini semua. Misalnya, pelajaran bahasa Mandarin bagi anak yang hidup di daerah pecinan akan sangat bermanfaat. Terlebih bila nantinya ia bercita-cita menjadi pelaku bisnis. Namun, Tidak begitu dengan anak-anak di Bali yang lebih memerlukan pelajaran seni tari dari pada bahasa Mandarin. Jadi, quantum lebih menekankan pada pembelajaran yang sarat makna dan sistem nilai yang bisa dikontribusikan kelak saat anak dewasa nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik pembelajaran quantum menggunakan teknik TANDUR, yakni :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;T : Tumbuhkan minat belajar.&lt;br /&gt;A : Aktifkan minat belajar.&lt;br /&gt;N : Namai semua konsep pembelajaran.&lt;br /&gt;D : Demontrasikan, dengan maksud supaya anak lebih memahami pelajaran.&lt;br /&gt;U : Ulangi, semakin sering diulang maka semakin kuat pelajaran melekat dalam ingatan.&lt;br /&gt;R : Rayakan, maksudnya apa yang sudah dipelajari anak ditunjukkan, sehingga orang lain juga tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan, ditemukan sebuah pendekatan pengajaran yang disebut dengan Quantum Teaching, dikembangkan oleh seorang guru dalam pembelajaran. Quantum Teaching sendiri berawal dari sebuah upaya Dr Georgi Lozanov, pendidik asal Bulgaria, yang bereksperimen dengan suggestology. Prinsipnya, sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangan selanjutnya, Bobbi de Porter (penulis buku best seller Quantum Learning dan Quantum Teaching), murid Lozanov, dan Mike Hernacki, mantan guru dan penulis, mengembangkan konsep Lozanov menjadi Quantum Learning. Metode belajar ini diadopsi dari beberapa teori. Antara lain sugesti, teori otak kanan dan kiri, teori otak triune, pilihan modalitas (visual, auditorial, dan kinestetik) dan pendidikan holistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quantum Teaching ini diibaratkan mengikuti konsep Persamaan Fisika Quantum yaitu :&lt;br /&gt;E = mc2&lt;br /&gt;E = Energi (antusiasme, efektivitas belajar-mengajar,semangat)&lt;br /&gt;M = massa (semua individu yang terlibat, situasi, materi, fisik)&lt;br /&gt;c = interaksi (hubungan yang tercipta di kelas)&lt;br /&gt;Berdasarkan persamaan ini dapat dipahami, interaksi serta proses pembelajaran yang tercipta akan berpengaruh besar sekali terhadap efektivitas dan antusiasme belajar pada peserta didik.&lt;br /&gt;Kata Quantum sendiri berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Jadi Quantum Teaching menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.&lt;br /&gt;Bila metode ini diterapkan, maka guru akan lebih mencintai dan lebih berhasil dalam memberikan materi serta lebih dicintai anak didik karena guru mengoptimalkan berbagai metode.&lt;br /&gt;Apalagi dalam Quantum Teaching ada istilah ‘Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan hantarlah dunia kita ke dunia mereka’. Hal ini menunjukkan, betapa pengajara dengan Quantum Teaching tidak hanya menawarkan materi yang mesti dipelajari siswa. Tetapi jauh dari itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik dalam dan ketika belajar.&lt;br /&gt;Selain itu, ada beberapa prinsip Quantum Teaching, yaitu:&lt;br /&gt;1. Segalanya berbicara, lingkungan kelas, bahasa tubuh, dan bahan pelajaran semuanya menyampaikan pesan tentang belajar.&lt;br /&gt;2. Segalanya bertujuan, siswa diberi tahu apa tujuan mereka mempelajari materi yang kita ajarkan.&lt;br /&gt;3. Pengalaman sebelum konsep, dari pengalaman guru dan siswa diperoleh banyak konsep.&lt;br /&gt;4. Akui setiap usaha, menghargai usaha siswa sekecil apa pun.&lt;br /&gt;5. Jika layak dipelajari, layak pula dirayakan, kita harus memberi pujian pada siswa yang terlibat aktif pada pelajaran kita. Misalnya saja dengan memberi tepuk tangan, berkata: bagus!, baik!, dll.&lt;br /&gt;Lebih jauh, dunia pendidikan akan semakin maju ke depannya. Sebab, Quantum Teaching akan membantu siswa dalam menumbuhkan minat siswa untuk terus belajar dengan semangat. Apalagi Quantum Teaching juga sangat menekankan pada pentingnya bahasa tubuh. Seperti tersenyum, bahu tegak, kepala ke atas, mengadakan kontak mata dengan siswa dan lain-lain. Humor yang bertujuan agar KBM tidak membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Pemaparan makalah ini memang tidak secara teknis pragmatis. Konsepsi-konsepsi alternatif solusi sistem pendidikan sebagai wahana untuk menutupi kekurangan sistem pendidikan konvensional masih dibutuhkan dalam kaitan membangun idealisme sistem pendidikan yang baik untuk kemajuan dan kecerdasan bangsa. Strategi kemudian perlu ditawarkan metode quantum teaching sebagai alternatif bentuk metode pembelajaran yang aktif dan menyenangkan anak didik. Tantangannya adalah bahwa masyarakat masih dalam posisi dinamis. Belum dapat ditemukan alternatif solusi yang tepat dan pasti sebagai rujukan sistem pendidikan nasional, karenanya wacana konsepsional dihadirkan di sini dalam rangka membangun idealitas sistem/metode pendidikan/pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang terus cenderung dinamis dan berkembang sampai saat ini.&lt;br /&gt;Globalitas adalah realitas kekinian dengan berbagai kemungkinan perubahan Metode quantum teaching diharapkan dapat dijadikan salah satu alternatif metode pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Pemanfaatan sains dan teknologi sebagai media pembelajaran juga dibutuhkan untuk mencapai tingkat kemajuan seiring dengan globalitas di dunia pendidikan. Pada tataran berikutnya adalah konsisten dalam membangun metode pembelajaran yang kreatif dan sistem pendidikan yang menyenangkan. Yang pada akhirnya dukungan dari berbagai pihak yang bersimpati di dunia pendidikan dapat menjadikan alternatif metode pembelajaran quantum teaching sebagai solusi di dunia pendidikan. Guru merupakan faktor penting untuk memberikan pemahaman pengetahuan dan penanaman nilai kepada peserta didik. Harapan yang dapat disampaikan adalah guru hendaknya dapat berperan sebagai fasilitator, observer dan desainer dan tanggap terhadap perubahan dan perkembangan dunia pendidikan.&lt;br /&gt;Kepada para rekan guru, semangat berkembang merupakan jawaban yang solusif untuk menjadikan metode quantum teaching sebagai metode alternatif dalam pembelajaran di sekolah. Selamat bekerja ……….!&lt;br /&gt;Lumajang, 21 Januari 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Rujukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Universitas Negeri Malang (UM). 2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Edisi&lt;br /&gt;Keempat). Malang : Biro Administrasi Akademik, Perencanaan dan Sistem Informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nakita Cetakan Pertama. 2004. Panduan Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : PT Sarana Kinasih Satya Sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. 2005. Jakarta : Tanpa Penerbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan SarahSinger-Nourie. 2006. QuantumTeaching. Bandung : Penerbit Kaifa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5975597218828598742-7587362282509821993?l=tomie-education.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tomie-education.blogspot.com/feeds/7587362282509821993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5975597218828598742&amp;postID=7587362282509821993' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/7587362282509821993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/7587362282509821993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tomie-education.blogspot.com/2008/11/metode-pembelajaran-quantum.html' title='Metode Pembelajaran Quantum'/><author><name>Tomie Yasanda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11149146580229876594</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_C2Ns8ygPDkc/SQyf6xdeftI/AAAAAAAAAHo/kRO3eKCaYq4/s72-c/Living-Learning-31808PF1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5975597218828598742.post-4720104841978034747</id><published>2008-11-01T11:08:00.000-07:00</published><updated>2008-11-01T11:17:48.912-07:00</updated><title type='text'>Undang-Undang Guru Dan Dosen</title><content type='html'>UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 14 TAHUN 2005&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;GURU DAN DOSEN&lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional dalam bidang pendidikan&lt;br /&gt;adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan&lt;br /&gt;meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman,&lt;br /&gt;bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu&lt;br /&gt;pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan&lt;br /&gt;masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab&lt;br /&gt;berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara&lt;br /&gt;Republik Indonesia Tahun 1945;&lt;br /&gt;b. bahwa untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses,&lt;br /&gt;peningkatan mutu dan relevansi, serta tata pemerintahan&lt;br /&gt;yang baik dan akuntabilitas pendidikan yang mampu&lt;br /&gt;menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan&lt;br /&gt;kehidupan lokal, nasional, dan global perlu dilakukan&lt;br /&gt;pemberdayaan dan peningkatan mutu guru dan dosen secara&lt;br /&gt;terencana, terarah, dan berkesinambungan;&lt;br /&gt;c. bahwa guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan&lt;br /&gt;kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan&lt;br /&gt;nasional dalam bidang pendidikan sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;pada huruf a, sehingga perlu dikembangkan sebagai profesi&lt;br /&gt;yang bermartabat;&lt;br /&gt;d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;pada huruf a, huruf b, dan huruf c perlu dibentuk Undang-&lt;br /&gt;Undang tentang Guru dan Dosen;&lt;br /&gt;Mengingat : 1. Pasal 20, Pasal 22 d, dan Pasal 31 Undang-Undang Dasar&lt;br /&gt;Negara Republik Indonesia Tahun 1945;&lt;br /&gt;2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem&lt;br /&gt;Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia&lt;br /&gt;Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik&lt;br /&gt;Indonesia Nomor 4301);&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan Persetujuan Bersama&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN:&lt;br /&gt;Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG GURU DAN DOSEN.&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:&lt;br /&gt;1. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama&lt;br /&gt;mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,&lt;br /&gt;menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan&lt;br /&gt;anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar,&lt;br /&gt;dan pendidikan menengah.&lt;br /&gt;2. Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan&lt;br /&gt;tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan&lt;br /&gt;menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni&lt;br /&gt;melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada&lt;br /&gt;masyarakat.&lt;br /&gt;3. Guru besar atau profesor yang selanjutnya disebut profesor&lt;br /&gt;adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih&lt;br /&gt;mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;4. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan&lt;br /&gt;oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan&lt;br /&gt;yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan&lt;br /&gt;yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta&lt;br /&gt;memerlukan pendidikan profesi.&lt;br /&gt;5. Penyelenggara pendidikan adalah Pemerintah, pemerintah&lt;br /&gt;daerah,&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;masyarakat&lt;br /&gt;yang&lt;br /&gt;menyelenggarakan&lt;br /&gt;pendidikan pada jalur pendidikan formal.&lt;br /&gt;6. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan&lt;br /&gt;yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur pendidikan&lt;br /&gt;formal dalam setiap jenjang dan jenis pendidikan.&lt;br /&gt;7. Perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama adalah&lt;br /&gt;perjanjian tertulis antara guru atau dosen dengan&lt;br /&gt;penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang&lt;br /&gt;memuat syarat-syarat kerja serta hak dan kewajiban para&lt;br /&gt;pihak dengan prinsip kesetaraan dan kesejawatan&lt;br /&gt;berdasarkan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;8. Pemutusan hubungan kerja atau pemberhentian kerja&lt;br /&gt;adalah pengakhiran perjanjian kerja atau kesepakatan kerja&lt;br /&gt;bersama guru atau dosen karena sesuatu hal yang&lt;br /&gt;mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara guru&lt;br /&gt;atau dosen dan penyelenggara pendidikan atau satuan&lt;br /&gt;pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;9. Kualifikasi akademik adalah ijazah jenjang pendidikan&lt;br /&gt;akademik yang harus dimiliki oleh guru atau dosen sesuai&lt;br /&gt;dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal di&lt;br /&gt;tempat penugasan.&lt;br /&gt;10. Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan,&lt;br /&gt;dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh&lt;br /&gt;guru&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;dosen&lt;br /&gt;dalam&lt;br /&gt;melaksanakan&lt;br /&gt;tugas&lt;br /&gt;keprofesionalan.&lt;br /&gt;11. Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik&lt;br /&gt;untuk guru dan dosen.&lt;br /&gt;12. Sertifikat pendidik adalah bukti formal sebagai pengakuan&lt;br /&gt;yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga&lt;br /&gt;profesional.&lt;br /&gt;13. Organisasi profesi guru adalah perkumpulan yang berbadan&lt;br /&gt;hukum yang didirikan dan diurus oleh guru untuk&lt;br /&gt;mengembangkan profesionalitas guru.&lt;br /&gt;14. Lembaga pendidikan tenaga kependidikan adalah perguruan&lt;br /&gt;tinggi yang diberi tugas oleh Pemerintah untuk&lt;br /&gt;menyelenggarakan&lt;br /&gt;program&lt;br /&gt;pengadaan&lt;br /&gt;guru&lt;br /&gt;pada&lt;br /&gt;pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,&lt;br /&gt;pendidikan dasar, dan/atau pendidikan menengah, serta&lt;br /&gt;untuk menyelenggarakan dan mengembangkan ilmu&lt;br /&gt;kependidikan dan nonkependidikan.&lt;br /&gt;15. Gaji adalah hak yang diterima oleh guru atau dosen atas&lt;br /&gt;pekerjaannya dari penyelenggara pendidikan atau satuan&lt;br /&gt;pendidikan dalam bentuk finansial secara berkala sesuai&lt;br /&gt;dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;16. Penghasilan adalah hak yang diterima oleh guru atau dosen&lt;br /&gt;dalam bentuk finansial sebagai imbalan melaksanakan tugas&lt;br /&gt;keprofesionalan&lt;br /&gt;yang&lt;br /&gt;ditetapkan&lt;br /&gt;dengan&lt;br /&gt;prinsip&lt;br /&gt;penghargaan atas dasar prestasi dan mencerminkan&lt;br /&gt;martabat guru atau dosen sebagai pendidik profesional.&lt;br /&gt;17. Daerah khusus adalah daerah yang terpencil atau&lt;br /&gt;terbelakang; daerah dengan kondisi masyarakat adat yang&lt;br /&gt;terpencil; daerah perbatasan dengan negara lain; daerah&lt;br /&gt;yang mengalami bencana alam, bencana sosial, atau daerah&lt;br /&gt;yang berada dalam keadaan darurat lain.&lt;br /&gt;18. Masyarakat adalah kelompok warga negara Indonesia&lt;br /&gt;nonpemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan&lt;br /&gt;dalam bidang pendidikan.&lt;br /&gt;19. Pemerintah adalah pemerintah pusat.&lt;br /&gt;20. Pemerintah daerah adalah pemerintah provinsi, pemerintah&lt;br /&gt;kabupaten, atau pemerintah kota.&lt;br /&gt;21. Menteri adalah menteri yang menangani urusan&lt;br /&gt;pemerintahan dalam bidang pendidikan nasional.&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KEDUDUKAN, FUNGSI, DAN TUJUAN&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;(1) Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional&lt;br /&gt;pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan&lt;br /&gt;pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang&lt;br /&gt;diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan&lt;br /&gt;sertifikat pendidik.&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;(1) Dosen mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional&lt;br /&gt;pada jenjang pendidikan tinggi yang diangkat sesuai dengan&lt;br /&gt;peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Pengakuan kedudukan dosen sebagai tenaga profesional&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan&lt;br /&gt;sertifikat pendidik.&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan&lt;br /&gt;martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi&lt;br /&gt;untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Kedudukan dosen sebagai tenaga profesional sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan&lt;br /&gt;martabat dan peran dosen sebagai agen pembelajaran,&lt;br /&gt;pengembang ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta&lt;br /&gt;pengabdi kepada masyarakat berfungsi untuk meningkatkan&lt;br /&gt;mutu pendidikan nasional.&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan&lt;br /&gt;untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan&lt;br /&gt;mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya&lt;br /&gt;potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan&lt;br /&gt;bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,&lt;br /&gt;berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara&lt;br /&gt;yang demokratis dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PRINSIP PROFESIONALITAS&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;(1) Profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan&lt;br /&gt;khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai&lt;br /&gt;berikut:&lt;br /&gt;a. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;&lt;br /&gt;b. memiliki&lt;br /&gt;komitmen&lt;br /&gt;untuk&lt;br /&gt;meningkatkan&lt;br /&gt;mutu&lt;br /&gt;pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia;&lt;br /&gt;c. memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang&lt;br /&gt;pendidikan sesuai dengan bidang tugas;&lt;br /&gt;d. memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan&lt;br /&gt;bidang tugas;&lt;br /&gt;e. memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas&lt;br /&gt;keprofesionalan;&lt;br /&gt;f. memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan&lt;br /&gt;prestasi kerja;&lt;br /&gt;g. memiliki&lt;br /&gt;kesempatan&lt;br /&gt;untuk&lt;br /&gt;mengembangkan&lt;br /&gt;keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar&lt;br /&gt;sepanjang hayat;&lt;br /&gt;h. memiliki&lt;br /&gt;jaminan&lt;br /&gt;perlindungan&lt;br /&gt;hukum&lt;br /&gt;dalam&lt;br /&gt;melaksanakan tugas keprofesionalan; dan&lt;br /&gt;i. memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan&lt;br /&gt;mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas&lt;br /&gt;keprofesionalan guru.&lt;br /&gt;(2) Pemberdayaan profesi guru atau pemberdayaan profesi&lt;br /&gt;dosen diselenggarakan melalui pengembangan diri yang&lt;br /&gt;dilakukan secara&lt;br /&gt;demokratis, berkeadilan, tidak&lt;br /&gt;diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi&lt;br /&gt;hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural,&lt;br /&gt;kemajemukan bangsa, dan kode etik profesi.&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;GURU&lt;br /&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;Kualifikasi, Kompetensi, dan Sertifikasi&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat&lt;br /&gt;pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan&lt;br /&gt;untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8&lt;br /&gt;diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau&lt;br /&gt;program diploma empat.&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;(1) Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8&lt;br /&gt;meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,&lt;br /&gt;kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang&lt;br /&gt;diperoleh melalui pendidikan profesi.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kompetensi guru&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;(1) Sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8&lt;br /&gt;diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan.&lt;br /&gt;(2) Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi&lt;br /&gt;yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang&lt;br /&gt;terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah.&lt;br /&gt;(3) Sertifikasi&lt;br /&gt;pendidik&lt;br /&gt;dilaksanakan&lt;br /&gt;secara&lt;br /&gt;objektif,&lt;br /&gt;transparan, dan akuntabel.&lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi pendidik&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur&lt;br /&gt;dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;Setiap orang yang telah memperoleh sertifikat pendidik memiliki&lt;br /&gt;kesempatan yang sama untuk diangkat menjadi guru pada&lt;br /&gt;satuan pendidikan tertentu.&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan&lt;br /&gt;anggaran untuk peningkatan kualifikasi akademik dan&lt;br /&gt;sertifikasi pendidik bagi guru dalam jabatan yang diangkat&lt;br /&gt;oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh&lt;br /&gt;Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai anggaran untuk&lt;br /&gt;peningkatan kualifikasi akademik dan sertifikasi pendidik&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Hak dan Kewajiban&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;(1) Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berhak:&lt;br /&gt;a. memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup&lt;br /&gt;minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;&lt;br /&gt;b. mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan&lt;br /&gt;tugas dan prestasi kerja;&lt;br /&gt;c. memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas&lt;br /&gt;dan hak atas kekayaan intelektual;&lt;br /&gt;d. memperoleh&lt;br /&gt;kesempatan&lt;br /&gt;untuk&lt;br /&gt;meningkatkan&lt;br /&gt;kompetensi;&lt;br /&gt;e. memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana&lt;br /&gt;pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas&lt;br /&gt;keprofesionalan;&lt;br /&gt;f. memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan&lt;br /&gt;ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau&lt;br /&gt;sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah&lt;br /&gt;pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-&lt;br /&gt;undangan;&lt;br /&gt;g. memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam&lt;br /&gt;melaksanakan tugas;&lt;br /&gt;h. memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi&lt;br /&gt;profesi;&lt;br /&gt;i. memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan&lt;br /&gt;kebijakan pendidikan;&lt;br /&gt;j. memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan&lt;br /&gt;meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi;&lt;br /&gt;dan/atau&lt;br /&gt;k. memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam&lt;br /&gt;bidangnya.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak guru sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan&lt;br /&gt;Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;(1) Penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) huruf a&lt;br /&gt;meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta&lt;br /&gt;penghasilan lain berupa tunjangan profesi, tunjangan&lt;br /&gt;fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang&lt;br /&gt;terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan&lt;br /&gt;dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi.&lt;br /&gt;(2) Guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang&lt;br /&gt;diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah&lt;br /&gt;diberi gaji sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3) Guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang&lt;br /&gt;diselenggarakan oleh masyarakat diberi gaji berdasarkan&lt;br /&gt;perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;(1) Pemerintah memberikan tunjangan profesi sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang telah&lt;br /&gt;memiliki&lt;br /&gt;sertifikat&lt;br /&gt;pendidik&lt;br /&gt;yang&lt;br /&gt;diangkat&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan yang&lt;br /&gt;diselenggarakan oleh masyarakat.&lt;br /&gt;(2) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang&lt;br /&gt;diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh&lt;br /&gt;Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa&lt;br /&gt;kerja, dan kualifikasi yang sama.&lt;br /&gt;(3) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja&lt;br /&gt;negara (APBN) dan/atau anggaran pendapatan dan belanja&lt;br /&gt;daerah (APBD).&lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan profesi guru&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)&lt;br /&gt;diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;(1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan&lt;br /&gt;tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal&lt;br /&gt;15 ayat (1) kepada guru yang diangkat oleh satuan&lt;br /&gt;pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan&lt;br /&gt;pemerintah daerah.&lt;br /&gt;(2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan&lt;br /&gt;subsidi tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam&lt;br /&gt;Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang diangkat oleh satuan&lt;br /&gt;pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat sesuai&lt;br /&gt;dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3) Tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;dan subsidi tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;pada ayat (2) dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan&lt;br /&gt;belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja&lt;br /&gt;daerah.&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;(1) Pemerintah memberikan tunjangan khusus sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang&lt;br /&gt;bertugas di daerah khusus.&lt;br /&gt;(2) Tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok guru yang&lt;br /&gt;diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh&lt;br /&gt;Pemerintah atau pemerintah daerah pada tingkat, masa&lt;br /&gt;kerja, dan kualifikasi yang sama.&lt;br /&gt;(3) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah&lt;br /&gt;daerah di daerah khusus, berhak atas rumah dinas yang&lt;br /&gt;disediakan oleh pemerintah daerah sesuai dengan&lt;br /&gt;kewenangan.&lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan khusus&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)&lt;br /&gt;diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;(1) Maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15&lt;br /&gt;ayat (1) merupakan tambahan kesejahteraan yang diperoleh&lt;br /&gt;dalam bentuk tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan,&lt;br /&gt;beasiswa, dan penghargaan bagi guru, serta kemudahan&lt;br /&gt;untuk memperoleh pendidikan bagi putra dan putri guru,&lt;br /&gt;pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain.&lt;br /&gt;(2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin&lt;br /&gt;terwujudnya maslahat tambahan sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;pada ayat (1).&lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai maslahat tambahan&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur&lt;br /&gt;dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban:&lt;br /&gt;a.&lt;br /&gt;merencanakan&lt;br /&gt;pembelajaran,&lt;br /&gt;melaksanakan&lt;br /&gt;proses&lt;br /&gt;pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi&lt;br /&gt;hasil pembelajaran;&lt;br /&gt;b.&lt;br /&gt;meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik&lt;br /&gt;dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan&lt;br /&gt;perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;&lt;br /&gt;c.&lt;br /&gt;bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar&lt;br /&gt;pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi&lt;br /&gt;fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial&lt;br /&gt;ekonomi peserta didik dalam pembelajaran;&lt;br /&gt;d.&lt;br /&gt;menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum,&lt;br /&gt;dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan&lt;br /&gt;e.&lt;br /&gt;memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.&lt;br /&gt;Bagian Ketiga&lt;br /&gt;Wajib Kerja dan Ikatan Dinas&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;(1) Dalam keadaan darurat, Pemerintah dapat memberlakukan&lt;br /&gt;ketentuan wajib kerja kepada guru dan/atau warga negara&lt;br /&gt;Indonesia lainnya yang memenuhi kualifikasi akademik dan&lt;br /&gt;kompetensi untuk melaksanakan tugas sebagai guru di&lt;br /&gt;daerah khusus di wilayah Negara Kesatuan Republik&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penugasan warga negara&lt;br /&gt;Indonesia sebagai guru dalam keadaan darurat sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan&lt;br /&gt;Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;(1) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah dapat menetapkan&lt;br /&gt;pola ikatan dinas bagi calon guru untuk memenuhi&lt;br /&gt;kepentingan pembangunan pendidikan nasional atau&lt;br /&gt;kepentingan pembangunan daerah.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pola ikatan dinas bagi&lt;br /&gt;calon guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur&lt;br /&gt;dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;(1) Pemerintah mengembangkan sistem pendidikan guru ikatan&lt;br /&gt;dinas&lt;br /&gt;berasrama&lt;br /&gt;di&lt;br /&gt;lembaga&lt;br /&gt;pendidikan&lt;br /&gt;tenaga&lt;br /&gt;kependidikan untuk menjamin efisiensi dan mutu&lt;br /&gt;pendidikan.&lt;br /&gt;(2) Kurikulum pendidikan guru pada lembaga pendidikan&lt;br /&gt;tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;harus mengembangkan kompetensi yang diperlukan untuk&lt;br /&gt;mendukung pelaksanaan pendidikan nasional, pendidikan&lt;br /&gt;bertaraf internasional, dan pendidikan berbasis keunggulan&lt;br /&gt;lokal.&lt;br /&gt;Bagian Keempat&lt;br /&gt;Pengangkatan, Penempatan, Pemindahan,&lt;br /&gt;dan Pemberhentian&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;(1) Pemerintah wajib memenuhi kebutuhan guru, baik dalam&lt;br /&gt;jumlah, kualifikasi akademik, maupun dalam kompetensi&lt;br /&gt;secara merata untuk menjamin keberlangsungan satuan&lt;br /&gt;pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal serta&lt;br /&gt;untuk menjamin keberlangsungan pendidikan dasar dan&lt;br /&gt;menengah yang diselenggarakan oleh Pemerintah.&lt;br /&gt;(2) Pemerintah provinsi wajib memenuhi kebutuhan guru, baik&lt;br /&gt;dalam jumlah, kualifikasi akademik, maupun dalam&lt;br /&gt;kompetensi&lt;br /&gt;secara&lt;br /&gt;merata&lt;br /&gt;untuk&lt;br /&gt;menjamin&lt;br /&gt;keberlangsungan pendidikan menengah dan pendidikan&lt;br /&gt;khusus sesuai dengan kewenangan.&lt;br /&gt;(3) Pemerintah kabupaten/kota wajib memenuhi kebutuhan&lt;br /&gt;guru, baik dalam jumlah, kualifikasi akademik, maupun&lt;br /&gt;dalam kompetensi secara merata untuk menjamin&lt;br /&gt;keberlangsungan pendidikan dasar dan pendidikan anak&lt;br /&gt;usia dini jalur pendidikan formal sesuai dengan&lt;br /&gt;kewenangan.&lt;br /&gt;(4) Penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan anak usia&lt;br /&gt;dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan&lt;br /&gt;pendidikan&lt;br /&gt;menengah&lt;br /&gt;yang&lt;br /&gt;diselenggarakan&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;masyarakat wajib memenuhi kebutuhan guru-tetap, baik&lt;br /&gt;dalam&lt;br /&gt;jumlah,&lt;br /&gt;kualifikasi&lt;br /&gt;akademik,&lt;br /&gt;maupun&lt;br /&gt;kompetensinya&lt;br /&gt;untuk&lt;br /&gt;menjamin&lt;br /&gt;keberlangsungan&lt;br /&gt;pendidikan.&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;(1) Pengangkatan dan penempatan guru dilakukan secara&lt;br /&gt;objektif dan transparan sesuai dengan peraturan perundang-&lt;br /&gt;undangan.&lt;br /&gt;(2) Pengangkatan dan penempatan guru pada satuan&lt;br /&gt;pendidikan yang diselenggarakan Pemerintah atau&lt;br /&gt;pemerintah daerah diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;(3) Pengangkatan dan penempatan guru pada satuan&lt;br /&gt;pendidikan yang diselenggarakan masyarakat dilakukan oleh&lt;br /&gt;penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang&lt;br /&gt;bersangkutan&lt;br /&gt;berdasarkan&lt;br /&gt;perjanjian&lt;br /&gt;kerja&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;kesepakatan kerja bersama.&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;(1) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah&lt;br /&gt;daerah dapat ditempatkan pada jabatan struktural.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penempatan guru yang&lt;br /&gt;diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada&lt;br /&gt;jabatan struktural sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;Tenaga kerja asing yang dipekerjakan sebagai guru pada satuan&lt;br /&gt;pendidikan di Indonesia wajib mematuhi kode etik guru dan&lt;br /&gt;peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;(1) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah&lt;br /&gt;daerah&lt;br /&gt;dapat&lt;br /&gt;dipindahtugaskan&lt;br /&gt;antarprovinsi,&lt;br /&gt;antarkabupaten/antarkota,&lt;br /&gt;antarkecamatan&lt;br /&gt;maupun&lt;br /&gt;antarsatuan pendidikan karena alasan kebutuhan satuan&lt;br /&gt;pendidikan dan/atau promosi.&lt;br /&gt;(2) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah&lt;br /&gt;daerah dapat mengajukan permohonan pindah tugas, baik&lt;br /&gt;antarprovinsi, antarkabupaten/antarkota, antarkecamatan&lt;br /&gt;maupun antarsatuan pendidikan sesuai dengan peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3) Dalam hal permohonan kepindahan dikabulkan, Pemerintah&lt;br /&gt;atau pemerintah daerah memfasilitasi kepindahan guru&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan&lt;br /&gt;kewenangan.&lt;br /&gt;(4) Pemindahan guru pada satuan pendidikan yang&lt;br /&gt;diselenggarakan oleh masyarakat diatur oleh penyelenggara&lt;br /&gt;pendidikan atau satuan pendidikan yang bersangkutan&lt;br /&gt;berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja&lt;br /&gt;bersama.&lt;br /&gt;(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemindahan guru&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)&lt;br /&gt;diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;(1) Guru yang bertugas di daerah khusus memperoleh hak yang&lt;br /&gt;meliputi kenaikan pangkat rutin secara otomatis, kenaikan&lt;br /&gt;pangkat istimewa sebanyak 1 (satu) kali, dan perlindungan&lt;br /&gt;dalam pelaksanaan tugas.&lt;br /&gt;(2) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah&lt;br /&gt;daerah wajib menandatangani pernyataan kesanggupan&lt;br /&gt;untuk ditugaskan di daerah khusus paling sedikit selama 2&lt;br /&gt;(dua) tahun.&lt;br /&gt;(3) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah&lt;br /&gt;daerah yang telah bertugas selama 2 (dua) tahun atau lebih&lt;br /&gt;di daerah khusus berhak pindah tugas setelah tersedia guru&lt;br /&gt;pengganti.&lt;br /&gt;(4) Dalam hal terjadi kekosongan guru, Pemerintah atau&lt;br /&gt;pemerintah daerah wajib menyediakan guru pengganti&lt;br /&gt;untuk menjamin keberlanjutan proses pembelajaran pada&lt;br /&gt;satuan pendidikan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai guru yang bertugas di&lt;br /&gt;daerah khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat&lt;br /&gt;(2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan Peraturan&lt;br /&gt;Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;(1) Guru dapat diberhentikan dengan hormat dari jabatan&lt;br /&gt;sebagai guru karena:&lt;br /&gt;a. meninggal dunia;&lt;br /&gt;b. mencapai batas usia pensiun;&lt;br /&gt;c. atas permintaan sendiri;&lt;br /&gt;d. sakit jasmani dan/atau rohani sehingga tidak dapat&lt;br /&gt;melaksanakan tugas secara terus-menerus selama 12&lt;br /&gt;(dua belas) bulan; atau&lt;br /&gt;e. berakhirnya perjanjian kerja atau kesepakatan kerja&lt;br /&gt;bersama antara guru dan penyelenggara pendidikan.&lt;br /&gt;(2) Guru dapat diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatan&lt;br /&gt;sebagai guru karena:&lt;br /&gt;a. melanggar sumpah dan janji jabatan;&lt;br /&gt;b. melanggar perjanjian kerja atau kesepakatan kerja&lt;br /&gt;bersama; atau&lt;br /&gt;c. melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas selama 1&lt;br /&gt;(satu) bulan atau lebih secara terus-menerus.&lt;br /&gt;(3) Pemberhentian guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;dan ayat (2) dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-&lt;br /&gt;undangan.&lt;br /&gt;(4) Pemberhentian&lt;br /&gt;guru&lt;br /&gt;karena&lt;br /&gt;batas&lt;br /&gt;usia&lt;br /&gt;pensiun&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan&lt;br /&gt;pada usia 60 (enam puluh) tahun.&lt;br /&gt;(5) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah&lt;br /&gt;daerah yang diberhentikan dari jabatan sebagai guru,&lt;br /&gt;kecuali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan&lt;br /&gt;huruf b, tidak dengan sendirinya diberhentikan sebagai&lt;br /&gt;pegawai negeri sipil.&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;(1) Pemberhentian guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30&lt;br /&gt;ayat (2) dapat dilakukan setelah guru yang bersangkutan&lt;br /&gt;diberi kesempatan untuk membela diri.&lt;br /&gt;(2) Guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh&lt;br /&gt;masyarakat yang diberhentikan dengan hormat tidak atas&lt;br /&gt;permintaan sendiri memperoleh kompensasi finansial sesuai&lt;br /&gt;dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.&lt;br /&gt;Bagian Kelima&lt;br /&gt;Pembinaan dan Pengembangan&lt;br /&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;(1) Pembinaan dan pengembangan guru meliputi pembinaan&lt;br /&gt;dan pengembangan profesi dan karier.&lt;br /&gt;(2) Pembinaan dan pengembangan profesi guru sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (1) meliputi kompetensi pedagogik,&lt;br /&gt;kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi&lt;br /&gt;profesional.&lt;br /&gt;(3) Pembinaan dan pengembangan profesi guru sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui jabatan&lt;br /&gt;fungsional.&lt;br /&gt;(4) Pembinaan dan pengembangan karier guru sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (1) meliputi penugasan, kenaikan&lt;br /&gt;pangkat, dan promosi.&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;Kebijakan strategis pembinaan dan pengembangan profesi dan&lt;br /&gt;karier guru pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh&lt;br /&gt;Pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat ditetapkan&lt;br /&gt;dengan Peraturan Menteri.&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;(1) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib membina dan&lt;br /&gt;mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi guru&lt;br /&gt;pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh&lt;br /&gt;Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.&lt;br /&gt;(2) Satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat&lt;br /&gt;wajib membina dan mengembangkan kualifikasi akademik&lt;br /&gt;dan kompetensi guru.&lt;br /&gt;(3) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan&lt;br /&gt;anggaran untuk meningkatkan profesionalitas dan&lt;br /&gt;pengabdian&lt;br /&gt;guru&lt;br /&gt;pada&lt;br /&gt;satuan&lt;br /&gt;pendidikan&lt;br /&gt;yang&lt;br /&gt;diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah,&lt;br /&gt;dan/atau masyarakat.&lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;(1) Beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu&lt;br /&gt;merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran,&lt;br /&gt;menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih&lt;br /&gt;peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan.&lt;br /&gt;(2) Beban kerja guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;adalah sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap&lt;br /&gt;muka dan sebanyak-banyaknya 40 (empat puluh) jam tatap&lt;br /&gt;muka dalam 1 (satu) minggu.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai beban kerja guru&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur&lt;br /&gt;dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Bagian Keenam&lt;br /&gt;Penghargaan&lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;(1) Guru yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau&lt;br /&gt;bertugas&lt;br /&gt;di&lt;br /&gt;daerah&lt;br /&gt;khusus&lt;br /&gt;berhak&lt;br /&gt;memperoleh&lt;br /&gt;penghargaan.&lt;br /&gt;(2) Guru yang gugur dalam melaksanakan tugas di daerah&lt;br /&gt;khusus memperoleh penghargaan dari Pemerintah,&lt;br /&gt;pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.&lt;br /&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;(1) Penghargaan dapat diberikan oleh Pemerintah, pemerintah&lt;br /&gt;daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan&lt;br /&gt;pendidikan.&lt;br /&gt;(2) Penghargaan dapat diberikan pada tingkat sekolah, tingkat&lt;br /&gt;desa/kelurahan,&lt;br /&gt;tingkat&lt;br /&gt;kecamatan,&lt;br /&gt;tingkat&lt;br /&gt;kabupaten/kota, tingkat provinsi, tingkat nasional,&lt;br /&gt;dan/atau tingkat internasional.&lt;br /&gt;(3) Penghargaan kepada guru dapat diberikan dalam bentuk&lt;br /&gt;tanda jasa, kenaikan pangkat istimewa, finansial, piagam,&lt;br /&gt;dan/atau bentuk penghargaan lain.&lt;br /&gt;(4) Penghargaan kepada guru dilaksanakan dalam rangka&lt;br /&gt;memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik&lt;br /&gt;Indonesia, hari ulang tahun provinsi, hari ulang tahun&lt;br /&gt;kabupaten/kota, hari ulang tahun satuan pendidikan, hari&lt;br /&gt;pendidikan nasional, hari guru nasional, dan/atau hari&lt;br /&gt;besar lain.&lt;br /&gt;(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian penghargaan&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan&lt;br /&gt;ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;Pemerintah dapat menetapkan hari guru nasional sebagai&lt;br /&gt;penghargaan kepada guru yang diatur dengan peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan.&lt;br /&gt;Bagian Ketujuh&lt;br /&gt;Perlindungan&lt;br /&gt;Pasal 39&lt;br /&gt;(1) Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi&lt;br /&gt;profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan&lt;br /&gt;perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas.&lt;br /&gt;(2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi&lt;br /&gt;perlindungan&lt;br /&gt;hukum,&lt;br /&gt;perlindungan&lt;br /&gt;profesi,&lt;br /&gt;serta&lt;br /&gt;perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.&lt;br /&gt;(3) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2)&lt;br /&gt;mencakup perlindungan hukum terhadap tindak kekerasan,&lt;br /&gt;ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau&lt;br /&gt;perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua&lt;br /&gt;peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain.&lt;br /&gt;(4) Perlindungan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)&lt;br /&gt;mencakup perlindungan terhadap pemutusan hubungan&lt;br /&gt;kerja yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-&lt;br /&gt;undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar,&lt;br /&gt;pembatasan dalam menyampaikan pandangan, pelecehan&lt;br /&gt;terhadap profesi, dan pembatasan/pelarangan lain yang&lt;br /&gt;dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas.&lt;br /&gt;(5) Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (2) mencakup perlindungan terhadap&lt;br /&gt;risiko gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja,&lt;br /&gt;kebakaran pada waktu kerja, bencana alam, kesehatan&lt;br /&gt;lingkungan kerja, dan/atau risiko lain.&lt;br /&gt;Bagian Kedelapan&lt;br /&gt;Cuti&lt;br /&gt;Pasal 40&lt;br /&gt;(1) Guru memperoleh cuti sesuai dengan peraturan perundang-&lt;br /&gt;undangan.&lt;br /&gt;(2) Guru dapat memperoleh cuti untuk studi dengan tetap&lt;br /&gt;memperoleh hak gaji penuh.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai cuti sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan&lt;br /&gt;Pemerintah.&lt;br /&gt;Bagian Kesembilan&lt;br /&gt;Organisasi Profesi dan Kode Etik&lt;br /&gt;Pasal 41&lt;br /&gt;(1) Guru membentuk organisasi profesi yang bersifat&lt;br /&gt;independen.&lt;br /&gt;(2) Organisasi profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;berfungsi untuk memajukan profesi, meningkatkan&lt;br /&gt;kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan&lt;br /&gt;profesi, kesejahteraan, dan pengabdian kepada masyarakat.&lt;br /&gt;(3) Guru wajib menjadi anggota organisasi profesi.&lt;br /&gt;(4) Pembentukan organisasi profesi sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan.&lt;br /&gt;(5) Pemerintah&lt;br /&gt;dan/atau&lt;br /&gt;pemerintah&lt;br /&gt;daerah&lt;br /&gt;dapat&lt;br /&gt;memfasilitasi organisasi profesi guru dalam pelaksanaan&lt;br /&gt;pembinaan dan pengembangan profesi guru.&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;Organisasi profesi guru mempunyai kewenangan:&lt;br /&gt;a. menetapkan dan menegakkan kode etik guru;&lt;br /&gt;b. memberikan bantuan hukum kepada guru;&lt;br /&gt;c.&lt;br /&gt;memberikan perlindungan profesi guru;&lt;br /&gt;d. melakukan pembinaan dan pengembangan profesi guru; dan&lt;br /&gt;e.&lt;br /&gt;memajukan pendidikan nasional.&lt;br /&gt;Pasal 43&lt;br /&gt;(1) Untuk menjaga dan meningkatkan kehormatan dan&lt;br /&gt;martabat guru dalam pelaksanaan tugas keprofesionalan,&lt;br /&gt;organisasi profesi guru membentuk kode etik.&lt;br /&gt;(2) Kode etik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi norma&lt;br /&gt;dan etika yang mengikat perilaku guru dalam pelaksanaan&lt;br /&gt;tugas keprofesionalan.&lt;br /&gt;Pasal 44&lt;br /&gt;(1) Dewan kehormatan guru dibentuk oleh organisasi profesi&lt;br /&gt;(2) Keanggotaan serta mekanisme kerja dewan kehormatan guru&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam anggaran&lt;br /&gt;dasar organisasi profesi guru.&lt;br /&gt;(3) Dewan kehormatan guru sebagaimana dimaksud pada ayat&lt;br /&gt;(1) dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan kode etik guru&lt;br /&gt;dan memberikan rekomendasi pemberian sanksi atas&lt;br /&gt;pelanggaran kode etik oleh guru.&lt;br /&gt;(4) Rekomendasi dewan kehormatan profesi guru sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (3) harus objektif, tidak diskriminatif,&lt;br /&gt;dan tidak bertentangan dengan anggaran dasar organisasi&lt;br /&gt;profesi serta peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(5) Organisasi profesi guru wajib melaksanakan rekomendasi&lt;br /&gt;dewan kehormatan guru sebagaimana dimaksud pada ayat&lt;br /&gt;(3).&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;DOSEN&lt;br /&gt;Bagian Kesatu&lt;br /&gt;Kualifikasi, Kompetensi, Sertifikasi, dan Jabatan Akademik&lt;br /&gt;Pasal 45&lt;br /&gt;Dosen wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat&lt;br /&gt;pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi&lt;br /&gt;lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat&lt;br /&gt;bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan&lt;br /&gt;pendidikan nasional.&lt;br /&gt;Pasal 46&lt;br /&gt;(1) Kualifikasi akademik dosen sebagaimana dimaksud dalam&lt;br /&gt;Pasal 45 diperoleh melalui pendidikan tinggi program&lt;br /&gt;pascasarjana yang terakreditasi sesuai dengan bidang&lt;br /&gt;keahlian.&lt;br /&gt;(2) Dosen memiliki kualifikasi akademik minimum:&lt;br /&gt;a. lulusan program magister untuk program diploma atau&lt;br /&gt;program sarjana; dan&lt;br /&gt;b. lulusan program doktor untuk program pascasarjana.&lt;br /&gt;(3) Setiap orang yang memiliki keahlian dengan prestasi luar&lt;br /&gt;biasa dapat diangkat menjadi dosen.&lt;br /&gt;(4) Ketentuan lain mengenai kualifikasi akademik sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dan keahlian dengan&lt;br /&gt;prestasi luar biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (3)&lt;br /&gt;ditentukan oleh masing-masing senat akademik satuan&lt;br /&gt;pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;Pasal 47&lt;br /&gt;(1) Sertifikat pendidik untuk dosen sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;dalam Pasal 45 diberikan setelah memenuhi syarat sebagai&lt;br /&gt;berikut:&lt;br /&gt;a. memiliki pengalaman kerja sebagai pendidik pada&lt;br /&gt;perguruan tinggi sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun;&lt;br /&gt;b. memiliki jabatan akademik sekurang-kurangnya asisten&lt;br /&gt;ahli; dan&lt;br /&gt;c. lulus sertifikasi yang dilakukan oleh perguruan tinggi&lt;br /&gt;yang menyelenggarakan program pengadaan tenaga&lt;br /&gt;kependidikan pada perguruan tinggi yang ditetapkan oleh&lt;br /&gt;Pemerintah.&lt;br /&gt;(2) Pemerintah menetapkan perguruan tinggi yang terakreditasi&lt;br /&gt;untuk menyelenggarakan program pengadaan tenaga&lt;br /&gt;kependidikan sesuai dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikat pendidik untuk&lt;br /&gt;dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan penetapan&lt;br /&gt;perguruan tinggi yang terakreditasi sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 48&lt;br /&gt;(1) Status dosen terdiri atas dosen tetap dan dosen tidak tetap.&lt;br /&gt;(2) Jenjang jabatan akademik dosen-tetap terdiri atas asisten&lt;br /&gt;ahli, lektor, lektor kepala, dan profesor.&lt;br /&gt;(3) Persyaratan untuk menduduki jabatan akademik profesor&lt;br /&gt;harus memiliki kualifikasi akademik doktor.&lt;br /&gt;(4) Pengaturan kewenangan jenjang jabatan akademik dan&lt;br /&gt;dosen tidak-tetap ditetapkan oleh setiap satuan pendidikan&lt;br /&gt;tinggi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;Pasal 49&lt;br /&gt;(1) Profesor merupakan jabatan akademik tertinggi pada satuan&lt;br /&gt;pendidikan&lt;br /&gt;tinggi&lt;br /&gt;yang&lt;br /&gt;mempunyai&lt;br /&gt;kewenangan&lt;br /&gt;membimbing calon doktor.&lt;br /&gt;(2) Profesor memiliki kewajiban khusus menulis buku dan&lt;br /&gt;karya ilmiah serta menyebarluaskan gagasannya untuk&lt;br /&gt;mencerahkan masyarakat.&lt;br /&gt;(3) Profesor yang memiliki karya ilmiah atau karya monumental&lt;br /&gt;lainnya yang sangat istimewa dalam bidangnya dan&lt;br /&gt;mendapat pengakuan internasional dapat diangkat menjadi&lt;br /&gt;profesor paripurna.&lt;br /&gt;(4) Pengaturan lebih lanjut mengenai profesor paripurna&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh setiap&lt;br /&gt;perguruan tinggi sesuai dengan peraturan perundang-&lt;br /&gt;undangan.&lt;br /&gt;Pasal 50&lt;br /&gt;(1) Setiap orang yang memiliki kualifikasi akademik dan&lt;br /&gt;kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45&lt;br /&gt;mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi dosen.&lt;br /&gt;(2) Setiap orang, yang akan diangkat menjadi dosen&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib mengikuti&lt;br /&gt;proses seleksi.&lt;br /&gt;(3) Setiap orang dapat diangkat secara langsung menduduki&lt;br /&gt;jenjang jabatan akademik tertentu berdasarkan hasil&lt;br /&gt;penilaian terhadap kualifikasi akademik, kompetensi, dan&lt;br /&gt;pengalaman yang dimiliki.&lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai seleksi sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (2) dan pengangkatan serta penetapan&lt;br /&gt;jenjang jabatan akademik tertentu sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;pada ayat (3) ditentukan oleh setiap satuan pendidikan&lt;br /&gt;tinggi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;Bagian Kedua&lt;br /&gt;Hak dan Kewajiban&lt;br /&gt;Pasal 51&lt;br /&gt;(1) Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dosen berhak:&lt;br /&gt;a. memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup&lt;br /&gt;minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;&lt;br /&gt;b. mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan&lt;br /&gt;tugas dan prestasi kerja;&lt;br /&gt;c. memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas&lt;br /&gt;dan hak atas kekayaan intelektual;&lt;br /&gt;d. memperoleh&lt;br /&gt;kesempatan&lt;br /&gt;untuk&lt;br /&gt;meningkatkan&lt;br /&gt;kompetensi, akses sumber belajar, informasi, sarana dan&lt;br /&gt;prasarana pembelajaran, serta penelitian dan pengabdian&lt;br /&gt;kepada masyarakat;&lt;br /&gt;e. memiliki kebebasan akademik, mimbar akademik, dan&lt;br /&gt;otonomi keilmuan;&lt;br /&gt;f. memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan&lt;br /&gt;menentukan kelulusan peserta didik; dan&lt;br /&gt;g. memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi&lt;br /&gt;profesi/organisasi profesi keilmuan.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai hak dosen sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan&lt;br /&gt;Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 52&lt;br /&gt;(1) Penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) huruf a&lt;br /&gt;meliputi gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, serta&lt;br /&gt;penghasilan lain yang berupa tunjangan profesi, tunjangan&lt;br /&gt;fungsional, tunjangan khusus, tunjangan kehormatan, serta&lt;br /&gt;maslahat tambahan yang terkait dengan tugas sebagai dosen&lt;br /&gt;yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar&lt;br /&gt;prestasi.&lt;br /&gt;(2) Dosen yang diangkat oleh satuan pendidikan tinggi yang&lt;br /&gt;diselenggarakan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah&lt;br /&gt;diberi gaji sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3) Dosen yang diangkat oleh satuan pendidikan tinggi yang&lt;br /&gt;diselenggarakan oleh masyarakat diberi gaji berdasarkan&lt;br /&gt;perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.&lt;br /&gt;Pasal 53&lt;br /&gt;(1) Pemerintah memberikan tunjangan profesi sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) kepada dosen yang telah&lt;br /&gt;memiliki&lt;br /&gt;sertifikat&lt;br /&gt;pendidik&lt;br /&gt;yang&lt;br /&gt;diangkat&lt;br /&gt;oleh&lt;br /&gt;penyelenggara pendidikan dan/atau satuan pendidikan&lt;br /&gt;tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat.&lt;br /&gt;(2) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok dosen yang&lt;br /&gt;diangkat oleh Pemerintah pada tingkat, masa kerja, dan&lt;br /&gt;kualifikasi yang sama.&lt;br /&gt;(3) Tunjangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja&lt;br /&gt;negara.&lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan profesi&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)&lt;br /&gt;diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 54&lt;br /&gt;(1) Pemerintah memberikan tunjangan fungsional sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) kepada dosen yang&lt;br /&gt;diangkat oleh Pemerintah.&lt;br /&gt;(2) Pemerintah memberikan subsidi tunjangan fungsional&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) kepada&lt;br /&gt;dosen yang diangkat oleh satuan pendidikan tinggi yang&lt;br /&gt;diselenggarakan oleh masyarakat sesuai dengan peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan.&lt;br /&gt;(3) Tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja&lt;br /&gt;negara.&lt;br /&gt;Pasal 55&lt;br /&gt;(1) Pemerintah memberikan tunjangan khusus sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1) kepada dosen yang&lt;br /&gt;bertugas di daerah khusus.&lt;br /&gt;(2) Tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;diberikan setara dengan 1 (satu) kali gaji pokok dosen yang&lt;br /&gt;diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah daerah pada&lt;br /&gt;tingkat, masa kerja, dan kualifikasi yang sama.&lt;br /&gt;(3) Tunjangan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja&lt;br /&gt;negara.&lt;br /&gt;(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan khusus&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)&lt;br /&gt;diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 56&lt;br /&gt;(1) Pemerintah memberikan tunjangan kehormatan kepada&lt;br /&gt;profesor yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau&lt;br /&gt;satuan pendidikan tinggi setara 2 (dua) kali gaji pokok&lt;br /&gt;profesor yang diangkat oleh Pemerintah pada tingkat, masa&lt;br /&gt;kerja, dan kualifikasi yang sama.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tunjangan kehormatan&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 57&lt;br /&gt;(1) Maslahat tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52&lt;br /&gt;ayat (1) merupakan tambahan kesejahteraan yang diperoleh&lt;br /&gt;dalam bentuk tunjangan pendidikan, asuransi pendidikan,&lt;br /&gt;beasiswa, dan penghargaan bagi dosen, serta kemudahan&lt;br /&gt;untuk memperoleh pendidikan bagi putra dan putri dosen,&lt;br /&gt;pelayanan kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain.&lt;br /&gt;(2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menjamin&lt;br /&gt;terwujudnya maslahat tambahan sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;pada ayat (1).&lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai maslahat tambahan&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur&lt;br /&gt;dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 58&lt;br /&gt;Dosen yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau satuan&lt;br /&gt;pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat berhak&lt;br /&gt;memperoleh jaminan sosial tenaga kerja sesuai dengan peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan.&lt;br /&gt;Pasal 59&lt;br /&gt;(1) Dosen yang mendalami dan mengembangkan bidang ilmu&lt;br /&gt;langka berhak memperoleh dana dan fasilitas khusus dari&lt;br /&gt;Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.&lt;br /&gt;(2) Dosen yang diangkat oleh Pemerintah di daerah khusus,&lt;br /&gt;berhak atas rumah dinas yang disediakan oleh Pemerintah&lt;br /&gt;dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan.&lt;br /&gt;Pasal 60&lt;br /&gt;Dalam&lt;br /&gt;melaksanakan&lt;br /&gt;tugas&lt;br /&gt;keprofesionalan,&lt;br /&gt;dosen&lt;br /&gt;berkewajiban:&lt;br /&gt;a. melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian&lt;br /&gt;kepada masyarakat;&lt;br /&gt;b. merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran, serta&lt;br /&gt;menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;&lt;br /&gt;c. meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik&lt;br /&gt;dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan&lt;br /&gt;perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;&lt;br /&gt;d. bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar&lt;br /&gt;pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, kondisi fisik&lt;br /&gt;tertentu, atau latar belakang sosioekonomi peserta didik&lt;br /&gt;dalam pembelajaran;&lt;br /&gt;e. menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum,&lt;br /&gt;dan kode etik, serta nilai-nilai agama dan etika; dan&lt;br /&gt;f.&lt;br /&gt;memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.&lt;br /&gt;Bagian Ketiga&lt;br /&gt;Wajib Kerja dan Ikatan Dinas&lt;br /&gt;Pasal 61&lt;br /&gt;(1) Dalam keadaan darurat, Pemerintah dapat memberlakukan&lt;br /&gt;ketentuan wajib kerja kepada dosen dan/atau warga negara&lt;br /&gt;Indonesia lain yang memenuhi kualifikasi akademik dan&lt;br /&gt;kompetensi untuk melaksanakan tugas sebagai dosen di&lt;br /&gt;daerah khusus.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penugasan warga negara&lt;br /&gt;Indonesia sebagai dosen dalam keadaan darurat&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 62&lt;br /&gt;(1) Pemerintah dapat menetapkan pola ikatan dinas bagi calon&lt;br /&gt;dosen untuk memenuhi kepentingan pembangunan&lt;br /&gt;pendidikan nasional, atau untuk memenuhi kepentingan&lt;br /&gt;pembangunan daerah.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pola ikatan dinas bagi&lt;br /&gt;calon dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur&lt;br /&gt;dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Bagian Keempat&lt;br /&gt;Pengangkatan, Penempatan, Pemindahan, dan&lt;br /&gt;Pemberhentian&lt;br /&gt;Pasal 63&lt;br /&gt;(1) Pengangkatan dan penempatan dosen pada satuan&lt;br /&gt;pendidikan tinggi dilakukan secara objektif dan transparan&lt;br /&gt;sesuai dengan peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Pengangkatan dan penempatan dosen pada satuan&lt;br /&gt;pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah&lt;br /&gt;diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;(3) Pengangkatan dan penempatan dosen pada satuan&lt;br /&gt;pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat&lt;br /&gt;dilakukan oleh penyelenggara pendidikan atau satuan&lt;br /&gt;pendidikan tinggi yang bersangkutan berdasarkan perjanjian&lt;br /&gt;kerja atau kesepakatan kerja bersama.&lt;br /&gt;(4) Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memfasilitasi&lt;br /&gt;satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh&lt;br /&gt;masyarakat untuk menjamin terselenggaranya pendidikan&lt;br /&gt;yang bermutu.&lt;br /&gt;Pasal 64&lt;br /&gt;(1) Dosen yang diangkat oleh Pemerintah dapat ditempatkan&lt;br /&gt;pada jabatan struktural sesuai dengan peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penempatan dosen yang&lt;br /&gt;diangkat oleh Pemerintah pada jabatan struktural&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Pasal 65&lt;br /&gt;Tenaga kerja asing yang dipekerjakan sebagai dosen pada satuan&lt;br /&gt;pendidikan tinggi di Indonesia wajib mematuhi peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan.&lt;br /&gt;Pasal 66&lt;br /&gt;Pemindahan dosen pada satuan pendidikan tinggi yang&lt;br /&gt;diselenggarakan oleh masyarakat diatur oleh penyelenggara&lt;br /&gt;pendidikan berdasarkan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja&lt;br /&gt;bersama.&lt;br /&gt;Pasal 67&lt;br /&gt;(1) Dosen dapat diberhentikan dengan hormat dari jabatan&lt;br /&gt;sebagai dosen karena:&lt;br /&gt;a. meninggal dunia;&lt;br /&gt;b. mencapai batas usia pensiun;&lt;br /&gt;c. atas permintaan sendiri;&lt;br /&gt;d. tidak dapat melaksanakan tugas secara terus-menerus&lt;br /&gt;selama 12 (dua belas) bulan karena sakit jasmani&lt;br /&gt;dan/atau rohani; atau&lt;br /&gt;e. berakhirnya perjanjian kerja atau kesepakatan kerja&lt;br /&gt;bersama antara dosen dan penyelenggara pendidikan.&lt;br /&gt;(2) Dosen dapat diberhentikan tidak dengan hormat dari&lt;br /&gt;jabatan sebagai dosen karena:&lt;br /&gt;a. melanggar sumpah dan janji jabatan;&lt;br /&gt;b. melanggar perjanjian kerja atau kesepakatan kerja&lt;br /&gt;bersama; atau&lt;br /&gt;c. melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas selama 1&lt;br /&gt;(satu) bulan atau lebih secara terus-menerus.&lt;br /&gt;(3) Pemberhentian dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;dan ayat (2) dilakukan oleh penyelenggara pendidikan atau&lt;br /&gt;satuan pendidikan tinggi yang bersangkutan berdasarkan&lt;br /&gt;peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(4) Pemberhentian dosen karena batas usia pensiun&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan&lt;br /&gt;pada usia 65 (enam puluh lima) tahun.&lt;br /&gt;(5) Profesor yang berprestasi dapat diperpanjang batas usia&lt;br /&gt;pensiunnya sampai 70 (tujuh puluh) tahun.&lt;br /&gt;(6) Dosen yang diangkat oleh Pemerintah yang diberhentikan&lt;br /&gt;dari jabatan sebagai dosen, kecuali sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;ayat (1) huruf a dan huruf b, tidak dengan sendirinya&lt;br /&gt;diberhentikan sebagai pegawai negeri sipil.&lt;br /&gt;Pasal 68&lt;br /&gt;(1) Pemberhentian dosen sebagaimana dimaksud dalam Pasal&lt;br /&gt;67 ayat (2) dapat dilakukan setelah dosen yang&lt;br /&gt;bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri.&lt;br /&gt;(2) Dosen pada satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan&lt;br /&gt;oleh masyarakat yang diberhentikan dengan hormat tidak&lt;br /&gt;atas permintaan sendiri memperoleh kompensasi finansial&lt;br /&gt;sesuai dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja&lt;br /&gt;bersama.&lt;br /&gt;Bagian Kelima&lt;br /&gt;Pembinaan dan Pengembangan&lt;br /&gt;Pasal 69&lt;br /&gt;(1) Pembinaan dan pengembangan dosen meliputi pembinaan&lt;br /&gt;dan pengembangan profesi dan karier.&lt;br /&gt;(2) Pembinaan dan pengembangan profesi dosen sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (1) meliputi kompetensi pedagogik,&lt;br /&gt;kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi&lt;br /&gt;profesional.&lt;br /&gt;(3) Pembinaan dan pengembangan profesi dosen dilakukan&lt;br /&gt;melalui jabatan fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat&lt;br /&gt;(1).&lt;br /&gt;(4) Pembinaan dan pengembangan karier dosen sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (1) meliputi penugasan, kenaikan&lt;br /&gt;pangkat, dan promosi.&lt;br /&gt;Pasal 70&lt;br /&gt;Kebijakan strategis pembinaan dan pengembangan profesi dan&lt;br /&gt;karier dosen pada satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan&lt;br /&gt;oleh Pemerintah atau masyarakat ditetapkan dengan Peraturan&lt;br /&gt;Menteri.&lt;br /&gt;Pasal 71&lt;br /&gt;(1) Pemerintah wajib membina dan mengembangkan kualifikasi&lt;br /&gt;akademik dan kompetensi dosen pada satuan pendidikan&lt;br /&gt;tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau&lt;br /&gt;masyarakat.&lt;br /&gt;(2) Satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh&lt;br /&gt;masyarakat wajib membina dan mengembangkan kualifikasi&lt;br /&gt;akademik dan kompetensi dosen.&lt;br /&gt;(3) Pemerintah&lt;br /&gt;wajib&lt;br /&gt;memberikan&lt;br /&gt;anggaran&lt;br /&gt;untuk&lt;br /&gt;meningkatkan profesionalitas dan pengabdian dosen pada&lt;br /&gt;satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh&lt;br /&gt;Pemerintah dan/atau masyarakat.&lt;br /&gt;Pasal 72&lt;br /&gt;(1) Beban kerja dosen mencakup kegiatan pokok yaitu&lt;br /&gt;merencanakan&lt;br /&gt;pembelajaran,&lt;br /&gt;melaksanakan&lt;br /&gt;proses&lt;br /&gt;pembelajaran,&lt;br /&gt;melakukan&lt;br /&gt;evaluasi&lt;br /&gt;pembelajaran,&lt;br /&gt;membimbing dan melatih, melakukan penelitian, melakukan&lt;br /&gt;tugas tambahan, serta melakukan pengabdian kepada&lt;br /&gt;masyarakat.&lt;br /&gt;(2) Beban kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-&lt;br /&gt;kurangnya sepadan dengan 12 (dua belas) satuan kredit&lt;br /&gt;semester dan sebanyak-banyaknya 16 (enam belas) satuan&lt;br /&gt;kredit semester.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai beban kerja dosen&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur oleh&lt;br /&gt;setiap satuan pendidikan tinggi sesuai dengan peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan.&lt;br /&gt;Bagian Keenam&lt;br /&gt;Penghargaan&lt;br /&gt;Pasal 73&lt;br /&gt;(1) Dosen yang berprestasi, berdedikasi luar biasa, dan/atau&lt;br /&gt;bertugas&lt;br /&gt;di&lt;br /&gt;daerah&lt;br /&gt;khusus&lt;br /&gt;berhak&lt;br /&gt;memperoleh&lt;br /&gt;penghargaan.&lt;br /&gt;(2) Dosen yang gugur dalam melaksanakan tugas di daerah&lt;br /&gt;khusus memperoleh penghargaan dari Pemerintah,&lt;br /&gt;pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.&lt;br /&gt;Pasal 74&lt;br /&gt;(1) Penghargaan dapat diberikan oleh Pemerintah, pemerintah&lt;br /&gt;daerah, masyarakat, organisasi profesi keilmuan, dan/atau&lt;br /&gt;satuan pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;(2) Penghargaan dapat diberikan pada tingkat satuan&lt;br /&gt;pendidikan tinggi, tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi,&lt;br /&gt;tingkat nasional, dan/atau tingkat internasional.&lt;br /&gt;(3) Penghargaan dapat diberikan dalam bentuk tanda jasa,&lt;br /&gt;kenaikan pangkat istimewa, finansial, piagam, dan/atau&lt;br /&gt;bentuk penghargaan lain.&lt;br /&gt;(4) Penghargaan . . .&lt;br /&gt;Page 31&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;31&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;(4) Penghargaan kepada dosen dilaksanakan dalam rangka&lt;br /&gt;memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik&lt;br /&gt;Indonesia, hari ulang tahun provinsi, hari ulang tahun&lt;br /&gt;kabupaten/kota, hari ulang tahun satuan pendidikan tinggi,&lt;br /&gt;hari pendidikan nasional, dan/atau hari besar lain.&lt;br /&gt;(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian penghargaan&lt;br /&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan&lt;br /&gt;ayat (4) diatur dengan Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;Bagian Ketujuh&lt;br /&gt;Perlindungan&lt;br /&gt;Pasal 75&lt;br /&gt;(1) Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi&lt;br /&gt;profesi, dan/atau satuan pendidikan tinggi wajib&lt;br /&gt;memberikan&lt;br /&gt;perlindungan&lt;br /&gt;terhadap&lt;br /&gt;dosen&lt;br /&gt;dalam&lt;br /&gt;pelaksanaan tugas.&lt;br /&gt;(2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi&lt;br /&gt;perlindungan&lt;br /&gt;hukum,&lt;br /&gt;perlindungan&lt;br /&gt;profesi,&lt;br /&gt;serta&lt;br /&gt;perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.&lt;br /&gt;(3) Perlindungan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2)&lt;br /&gt;mencakup perlindungan terhadap tindak kekerasan,&lt;br /&gt;ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau&lt;br /&gt;perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua&lt;br /&gt;peserta didik, masyarakat, birokrasi, dan/atau pihak lain.&lt;br /&gt;(4) Perlindungan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2)&lt;br /&gt;mencakup perlindungan terhadap pelaksanaan tugas dosen&lt;br /&gt;sebagai tenaga profesional yang meliputi pemutusan&lt;br /&gt;hubungan kerja yang tidak sesuai dengan peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan, pemberian imbalan yang tidak wajar,&lt;br /&gt;pembatasan kebebasan akademik, mimbar akademik, dan&lt;br /&gt;otonomi keilmuan, serta pembatasan/pelarangan lain yang&lt;br /&gt;dapat menghambat dosen dalam pelaksanaan tugas.&lt;br /&gt;(5) Perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada ayat (2) meliputi perlindungan terhadap&lt;br /&gt;risiko gangguan keamanan kerja, kecelakaan kerja,&lt;br /&gt;kebakaran pada waktu kerja, bencana alam, kesehatan&lt;br /&gt;lingkungan kerja, dan/atau risiko lain.&lt;br /&gt;(6) Dalam . . .&lt;br /&gt;Page 32&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;32&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;(6) Dalam rangka kegiatan akademik, dosen mendapat&lt;br /&gt;perlindungan untuk menggunakan data dan sumber yang&lt;br /&gt;dikategorikan terlarang oleh peraturan perundang-&lt;br /&gt;undangan.&lt;br /&gt;Bagian Kedelapan&lt;br /&gt;Cuti&lt;br /&gt;Pasal 76&lt;br /&gt;(1) Dosen memperoleh cuti sesuai dengan peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Dosen memperoleh cuti untuk studi dan penelitian atau&lt;br /&gt;untuk pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan&lt;br /&gt;seni dengan memperoleh hak gaji penuh.&lt;br /&gt;(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai cuti sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud pada pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah.&lt;br /&gt;BAB VI&lt;br /&gt;SANKSI&lt;br /&gt;Pasal 77&lt;br /&gt;(1) Guru yang diangkat oleh Pemerintah atau pemerintah&lt;br /&gt;daerah yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 20 dikenai sanksi sesuai dengan&lt;br /&gt;peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:&lt;br /&gt;a. teguran;&lt;br /&gt;b. peringatan tertulis;&lt;br /&gt;c. penundaan pemberian hak guru;&lt;br /&gt;d. penurunan pangkat;&lt;br /&gt;e. pemberhentian dengan hormat; atau&lt;br /&gt;f.&lt;br /&gt;pemberhentian tidak dengan hormat.&lt;br /&gt;(3) Guru yang berstatus ikatan dinas sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;dalam Pasal 22 yang tidak melaksanakan tugas sesuai&lt;br /&gt;dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama&lt;br /&gt;diberi sanksi sesuai dengan perjanjian ikatan dinas.&lt;br /&gt;(4) Guru . . .&lt;br /&gt;Page 33&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;33&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;(4) Guru yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau&lt;br /&gt;satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat,&lt;br /&gt;yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;dalam Pasal 20 dikenai sanksi sesuai dengan perjanjian&lt;br /&gt;kerja atau kesepakatan kerja bersama.&lt;br /&gt;(5) Guru yang melakukan pelanggaran kode etik dikenai sanksi&lt;br /&gt;oleh organisasi profesi.&lt;br /&gt;(6) Guru yang dikenai sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat&lt;br /&gt;(1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) mempunyai hak&lt;br /&gt;membela diri.&lt;br /&gt;Pasal 78&lt;br /&gt;(1) Dosen yang diangkat oleh Pemerintah yang tidak&lt;br /&gt;menjalankan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal&lt;br /&gt;60 dikenai sanksi sesuai dengan peraturan perundang-&lt;br /&gt;undangan.&lt;br /&gt;(2) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:&lt;br /&gt;a. teguran;&lt;br /&gt;b. peringatan tertulis;&lt;br /&gt;c. penundaan pemberian hak dosen;&lt;br /&gt;d. penurunan pangkat dan jabatan akademik;&lt;br /&gt;e. pemberhentian dengan hormat; atau&lt;br /&gt;f.&lt;br /&gt;pemberhentian tidak dengan hormat.&lt;br /&gt;(3) Dosen yang diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau&lt;br /&gt;satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh&lt;br /&gt;masyarakat yang tidak menjalankan kewajiban sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 60 dikenai sanksi sesuai dengan&lt;br /&gt;perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama.&lt;br /&gt;(4) Dosen yang berstatus ikatan dinas sebagaimana dimaksud&lt;br /&gt;dalam Pasal 62 yang tidak melaksanakan tugas sesuai&lt;br /&gt;dengan perjanjian kerja atau kesepakatan kerja bersama&lt;br /&gt;diberi sanksi sesuai dengan perjanjian ikatan dinas.&lt;br /&gt;(5) Dosen yang dikenai sanksi sebagaimana dimaksud pada&lt;br /&gt;ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) mempunyai hak&lt;br /&gt;membela diri.&lt;br /&gt;Pasal 79 . . .&lt;br /&gt;Pasal 79&lt;br /&gt;Page 34&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;34&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;(1) Penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang&lt;br /&gt;melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 24, Pasal 34, Pasal 39, Pasal 63 ayat&lt;br /&gt;(4), Pasal 71, dan Pasal 75 diberi sanksi sesuai dengan&lt;br /&gt;peraturan perundang-undangan.&lt;br /&gt;(2) Sanksi bagi penyelenggara pendidikan berupa:&lt;br /&gt;a. teguran;&lt;br /&gt;b. peringatan tertulis;&lt;br /&gt;c. pembatasan&lt;br /&gt;kegiatan&lt;br /&gt;penyelenggaraan&lt;br /&gt;satuan&lt;br /&gt;pendidikan; atau&lt;br /&gt;d. pembekuan&lt;br /&gt;kegiatan&lt;br /&gt;penyelenggaraan&lt;br /&gt;satuan&lt;br /&gt;pendidikan.&lt;br /&gt;BAB VII&lt;br /&gt;KETENTUAN PERALIHAN&lt;br /&gt;Pasal 80&lt;br /&gt;(1) Pada saat mulai berlakunya Undang-Undang ini:&lt;br /&gt;a. guru yang belum memiliki sertifikat pendidik&lt;br /&gt;memperoleh&lt;br /&gt;tunjangan&lt;br /&gt;fungsional&lt;br /&gt;sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dan ayat (2) dan&lt;br /&gt;memperoleh&lt;br /&gt;maslahat&lt;br /&gt;tambahan&lt;br /&gt;sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) paling lama 10&lt;br /&gt;(sepuluh) tahun, atau guru yang bersangkutan telah&lt;br /&gt;memenuhi kewajiban memiliki sertifikat pendidik.&lt;br /&gt;b. dosen yang belum memiliki sertifikat pendidik&lt;br /&gt;memperoleh&lt;br /&gt;tunjangan&lt;br /&gt;fungsional&lt;br /&gt;sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 54 ayat (1) dan ayat (2) dan&lt;br /&gt;memperoleh&lt;br /&gt;maslahat&lt;br /&gt;tambahan&lt;br /&gt;sebagaimana&lt;br /&gt;dimaksud dalam Pasal 57 ayat (2) paling lama 10&lt;br /&gt;(sepuluh) tahun, atau dosen yang bersangkutan telah&lt;br /&gt;memenuhi kewajiban memiliki sertifikat pendidik.&lt;br /&gt;(2) Tunjangan . . .&lt;br /&gt;Page 35&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;35&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;(2) Tunjangan fungsional dan maslahat tambahan bagi guru&lt;br /&gt;dan dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1)&lt;br /&gt;dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja&lt;br /&gt;negara dan anggaran pendapatan dan belanja daerah.&lt;br /&gt;Pasal 81&lt;br /&gt;Semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan&lt;br /&gt;guru dan dosen tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau&lt;br /&gt;belum diganti dengan peraturan baru berdasarkan Undang-&lt;br /&gt;Undang ini.&lt;br /&gt;BAB VIII&lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;Pasal 82&lt;br /&gt;(1) Pemerintah mulai melaksanakan program sertifikasi&lt;br /&gt;pendidik paling lama dalam waktu 12 (dua belas) bulan&lt;br /&gt;terhitung sejak berlakunya Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;(2) Guru yang belum memiliki kualifikasi akademik dan&lt;br /&gt;sertifikat pendidik sebagaimana dimaksud pada Undang-&lt;br /&gt;Undang ini wajib memenuhi kualifikasi akademik dan&lt;br /&gt;sertifikat pendidik paling lama 10 (sepuluh) tahun sejak&lt;br /&gt;berlakunya Undang-Undang ini.&lt;br /&gt;Pasal 83&lt;br /&gt;Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk&lt;br /&gt;melaksanakan Undang-Undang ini harus diselesaikan selambat-&lt;br /&gt;lambatnya 18 (delapan belas) bulan sejak berlakunya Undang-&lt;br /&gt;Undang ini.&lt;br /&gt;Pasal 84&lt;br /&gt;Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.&lt;br /&gt;Agar . . .&lt;br /&gt;Page 36&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;36&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Agar&lt;br /&gt;setiap&lt;br /&gt;orang&lt;br /&gt;mengetahuinya,&lt;br /&gt;memerintahkan&lt;br /&gt;pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya&lt;br /&gt;dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 30 Desember 2005&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;ttd&lt;br /&gt;DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;pada tanggal 30 Desember 2005&lt;br /&gt;MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA&lt;br /&gt;REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;AD INTERIM,&lt;br /&gt;ttd&lt;br /&gt;YUSRIL IHZA MAHENDRA&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2005 NOMOR 157&lt;br /&gt;Salinan sesuai dengan aslinya&lt;br /&gt;DEPUTI MENTERI SEKRETARIS NEGARA&lt;br /&gt;BIDANG PERUNDANG-UNDANGAN,&lt;br /&gt;ABDUL WAHID&lt;br /&gt;Page 37&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;ATAS&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 14 TAHUN 2005&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;GURU DAN DOSEN&lt;br /&gt;I. UMUM&lt;br /&gt;Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun&lt;br /&gt;1945 menyatakan bahwa tujuan nasional adalah untuk melindungi&lt;br /&gt;segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk&lt;br /&gt;memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan&lt;br /&gt;ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan,&lt;br /&gt;perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Untuk mewujudkan tujuan&lt;br /&gt;nasional tersebut, pendidikan merupakan faktor yang sangat menentukan.&lt;br /&gt;Selanjutnya, Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia&lt;br /&gt;Tahun 1945 mengamanatkan bahwa (1) setiap warga negara berhak&lt;br /&gt;mendapat pendidikan; (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan&lt;br /&gt;dasar dan pemerintah wajib membiayainya; (3)&lt;br /&gt;Pemerintah&lt;br /&gt;mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional,&lt;br /&gt;yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam&lt;br /&gt;rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-&lt;br /&gt;undang; (4) Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-&lt;br /&gt;kurangnya 20% (dua puluh persen) dari anggaran pendapatan dan belanja&lt;br /&gt;negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk&lt;br /&gt;memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional; dan (5)&lt;br /&gt;Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan&lt;br /&gt;menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk&lt;br /&gt;kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.&lt;br /&gt;Salah satu amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia&lt;br /&gt;Tahun 1945 tersebut kemudian diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang&lt;br /&gt;Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang memiliki&lt;br /&gt;visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan&lt;br /&gt;berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia&lt;br /&gt;Page 38&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan&lt;br /&gt;proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.&lt;br /&gt;Kualitas manusia yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia pada masa&lt;br /&gt;yang akan datang adalah yang mampu menghadapi persaingan yang&lt;br /&gt;semakin ketat dengan bangsa lain di dunia. Kualitas manusia Indonesia&lt;br /&gt;tersebut dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, guru dan dosen mempunyai fungsi, peran, dan&lt;br /&gt;kedudukan yang sangat strategis. Pasal 39 Ayat (2) Undang-Undang&lt;br /&gt;Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan&lt;br /&gt;bahwa pendidik merupakan tenaga profesional. Kedudukan guru dan&lt;br /&gt;dosen sebagai tenaga profesional mempunyai visi terwujudnya&lt;br /&gt;penyelenggaraan&lt;br /&gt;pembelajaran&lt;br /&gt;sesuai&lt;br /&gt;dengan&lt;br /&gt;prinsip-prinsip&lt;br /&gt;profesionalitas untuk memenuhi hak yang sama bagi setiap warga negara&lt;br /&gt;dalam memperoleh pendidikan yang bermutu.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, pengakuan kedudukan guru dan dosen&lt;br /&gt;sebagai tenaga profesional mempunyai misi untuk melaksanakan tujuan&lt;br /&gt;Undang-Undang ini sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. mengangkat martabat guru dan dosen;&lt;br /&gt;2. menjamin hak dan kewajiban guru dan dosen;&lt;br /&gt;3. meningkatkan kompetensi guru dan dosen;&lt;br /&gt;4. memajukan profesi serta karier guru dan dosen;&lt;br /&gt;5. meningkatkan mutu pembelajaran;&lt;br /&gt;6. meningkatkan mutu pendidikan nasional;&lt;br /&gt;7. mengurangi kesenjangan ketersediaan guru dan dosen antardaerah&lt;br /&gt;dari segi jumlah, mutu, kualifikasi akademik, dan kompetensi;&lt;br /&gt;8. mengurangi kesenjangan mutu pendidikan antardaerah; dan&lt;br /&gt;9. meningkatkan pelayanan pendidikan yang bermutu.&lt;br /&gt;Berdasarkan visi dan misi tersebut, kedudukan guru sebagai tenaga&lt;br /&gt;profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat guru serta perannya&lt;br /&gt;sebagai agen pembelajaran untuk meningkatkan mutu pendidikan&lt;br /&gt;nasional, sedangkan kedudukan dosen sebagai tenaga profesional&lt;br /&gt;berfungsi untuk meningkatkan martabat dosen serta mengembangkan&lt;br /&gt;ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni untuk meningkatkan mutu&lt;br /&gt;pendidikan nasional.&lt;br /&gt;kedudukan . . .&lt;br /&gt;Page 39&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Sejalan dengan fungsi tersebut, kedudukan guru dan dosen sebagai&lt;br /&gt;tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan&lt;br /&gt;nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yakni&lt;br /&gt;berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman&lt;br /&gt;dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,&lt;br /&gt;berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang&lt;br /&gt;demokratis dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan penghargaan terhadap tugas guru dan dosen,&lt;br /&gt;kedudukan guru dan dosen pada pendidikan anak usia dini jalur&lt;br /&gt;pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah,&lt;br /&gt;dan pendidikan tinggi perlu dikukuhkan dengan pemberian sertifikat&lt;br /&gt;pendidik. Sertifikat tersebut merupakan pengakuan atas kedudukan guru&lt;br /&gt;dan dosen sebagai tenaga profesional. Dalam melaksanakan tugasnya,&lt;br /&gt;guru dan dosen harus memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup&lt;br /&gt;minimum sehingga memiliki kesempatan untuk meningkatkan&lt;br /&gt;kemampuan profesionalnya.&lt;br /&gt;Selain itu, perlu juga diperhatikan upaya-upaya memaksimalkan fungsi&lt;br /&gt;dan peran strategis guru dan dosen yang meliputi penegakan hak dan&lt;br /&gt;kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga profesional, pembinaan dan&lt;br /&gt;pengembangan profesi guru dan dosen, perlindungan hukum,&lt;br /&gt;perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan&lt;br /&gt;kerja.&lt;br /&gt;Berdasarkan visi, misi, dan pertimbangan-pertimbangan di atas&lt;br /&gt;diperlukan strategi yang meliputi:&lt;br /&gt;1. penyelenggaraan sertifikasi pendidik berdasarkan kualifikasi&lt;br /&gt;akademik dan kompetensi;&lt;br /&gt;2. pemenuhan hak dan kewajiban guru dan dosen sebagai tenaga&lt;br /&gt;profesional yang sesuai dengan prinsip profesionalitas;&lt;br /&gt;3. penyelenggaraan&lt;br /&gt;kebijakan&lt;br /&gt;strategis&lt;br /&gt;dalam&lt;br /&gt;pengangkatan,&lt;br /&gt;penempatan, pemindahan, dan pemberhentian guru dan dosen sesuai&lt;br /&gt;dengan kebutuhan, baik jumlah, kualifikasi akademik, maupun&lt;br /&gt;kompetensi yang dilakukan secara merata, objektif, dan transparan&lt;br /&gt;untuk menjamin keberlangsungan pendidikan;&lt;br /&gt;Selain . . .&lt;br /&gt;Page 40&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;4. penyelenggaraan kebijakan strategis dalam pembinaan dan&lt;br /&gt;pengembangan profesi guru dan dosen untuk meningkatkan&lt;br /&gt;profesionalitas dan pengabdian para guru dan dosen;&lt;br /&gt;5. peningkatan pemberian penghargaan dan jaminan perlindungan&lt;br /&gt;terhadap guru dan dosen dalam pelaksanaan tugas profesional;&lt;br /&gt;6. peningkatan peran organisasi profesi untuk menjaga dan&lt;br /&gt;meningkatkan kehormatan dan martabat guru dan dosen dalam&lt;br /&gt;pelaksanaan tugas sebagai tenaga profesional;&lt;br /&gt;7. penguatan kesetaraan antara guru dan dosen yang bertugas pada&lt;br /&gt;satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah dan&lt;br /&gt;pemerintah daerah dengan guru dan dosen yang bertugas pada&lt;br /&gt;satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat;&lt;br /&gt;8. penguatan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah dan&lt;br /&gt;pemerintah daerah dalam merealisasikan pencapaian anggaran&lt;br /&gt;pendidikan untuk memenuhi hak dan kewajiban guru dan dosen&lt;br /&gt;sebagai tenaga profesional; dan&lt;br /&gt;9. peningkatan peran serta masyarakat dalam memenuhi hak dan&lt;br /&gt;kewajiban guru dan dosen.&lt;br /&gt;Pengakuan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional&lt;br /&gt;merupakan bagian dari pembaharuan sistem pendidikan nasional yang&lt;br /&gt;pelaksanaannya&lt;br /&gt;memperhatikan&lt;br /&gt;berbagai&lt;br /&gt;ketentuan&lt;br /&gt;peraturan&lt;br /&gt;perundang-undangan&lt;br /&gt;di&lt;br /&gt;bidang&lt;br /&gt;pendidikan,&lt;br /&gt;kepegawaian,&lt;br /&gt;ketenagakerjaan, keuangan, dan pemerintahan daerah.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan hal itu, diperlukan pengaturan tentang kedudukan&lt;br /&gt;guru dan dosen sebagai tenaga profesional dalam suatu Undang-Undang&lt;br /&gt;tentang Guru dan Dosen.&lt;br /&gt;II. PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;II. PASAL DEMI PASAL . . .&lt;br /&gt;Page 41&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Guru sebagai tenaga profesional mengandung arti bahwa&lt;br /&gt;pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang&lt;br /&gt;mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat&lt;br /&gt;pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan&lt;br /&gt;jenjang pendidikan tertentu.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan guru sebagai agen pembelajaran (learning&lt;br /&gt;agent) adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator,&lt;br /&gt;pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi&lt;br /&gt;peserta didik.&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan sehat jasmani dan rohani adalah kondisi&lt;br /&gt;kesehatan fisik dan mental yang memungkinkan guru dapat&lt;br /&gt;melaksanakan tugas dengan baik. Kondisi kesehatan fisik dan mental&lt;br /&gt;tersebut tidak ditujukan kepada penyandang cacat.&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 10 . . .&lt;br /&gt;Page 42&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik adalah&lt;br /&gt;kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah&lt;br /&gt;kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif,&lt;br /&gt;dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah&lt;br /&gt;kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan&lt;br /&gt;mendalam.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan&lt;br /&gt;guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan&lt;br /&gt;efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta&lt;br /&gt;didik, dan masyarakat sekitar.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;huruf a&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan penghasilan di atas kebutuhan&lt;br /&gt;hidup minimum adalah pendapatan yang cukup untuk&lt;br /&gt;memenuhi kebutuhan hidup guru dan keluarganya secara&lt;br /&gt;wajar, baik sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan,&lt;br /&gt;rekreasi, maupun jaminan hari tua.&lt;br /&gt;huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Page 43&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;huruf e&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;huruf f&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;huruf g . . .&lt;br /&gt;huruf g&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;huruf h&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;huruf i&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;huruf j&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;huruf k&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan gaji pokok adalah satuan penghasilan&lt;br /&gt;yang ditetapkan berdasarkan pangkat, golongan, dan masa&lt;br /&gt;kerja.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan tunjangan yang melekat pada gaji adalah&lt;br /&gt;tambahan penghasilan sebagai komponen kesejahteraan yang&lt;br /&gt;ditentukan berdasarkan jumlah tanggungan keluarga.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan tunjangan profesi adalah tunjangan yang&lt;br /&gt;diberikan kepada guru yang memiliki sertifikat pendidik sebagai&lt;br /&gt;penghargaan atas profesionalitasnya.&lt;br /&gt;Page 44&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan tunjangan khusus adalah tunjangan&lt;br /&gt;yang diberikan kepada guru sebagai kompensasi atas kesulitan&lt;br /&gt;hidup yang dihadapi dalam melaksanakan tugas di daerah&lt;br /&gt;khusus.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan maslahat tambahan adalah tambahan&lt;br /&gt;kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk asuransi, pelayanan&lt;br /&gt;kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3) . . .&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Tunjangan profesi dapat diperhitungkan sebagai bagian dari&lt;br /&gt;anggaran pendidikan selain gaji pendidik dan anggaran&lt;br /&gt;pendidikan kedinasan untuk memenuhi ketentuan dalam Pasal&lt;br /&gt;49 ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003&lt;br /&gt;tentang Sistem Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Tunjangan fungsional dapat diperhitungkan sebagai bagian dari&lt;br /&gt;anggaran pendidikan selain gaji pendidik dan anggaran&lt;br /&gt;Page 45&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;pendidikan kedinasan untuk memenuhi ketentuan dalam Pasal&lt;br /&gt;49 ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003&lt;br /&gt;tentang Sistem Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Tunjangan khusus dapat diperhitungkan sebagai bagian dari&lt;br /&gt;anggaran pendidikan selain gaji pendidik dan anggaran&lt;br /&gt;pendidikan kedinasan untuk memenuhi ketentuan dalam Pasal&lt;br /&gt;49 ayat (1) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003&lt;br /&gt;tentang Sistem Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kemudahan untuk memperoleh&lt;br /&gt;pendidikan bagi putra-putri guru adalah berupa kesempatan dan&lt;br /&gt;keringanan biaya pendidikan bagi putra-putri guru yang telah&lt;br /&gt;memenuhi syarat-syarat akademik untuk menempuh pendidikan&lt;br /&gt;dalam satuan pendidikan tertentu.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3) . . .&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Page 46&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Pasal 22&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 23&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 24&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 25&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 26&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 27&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 28&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 29&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 30&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 31&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 32&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 33&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Page 47&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;11&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Pasal 34 . . .&lt;br /&gt;Pasal 34&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 35&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 36&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 37&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 38&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 39&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 40&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 41&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 42&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 43&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 44&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 45&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan sehat jasmani dan rohani adalah kondisi&lt;br /&gt;kesehatan fisik dan mental yang memungkinkan dosen dapat&lt;br /&gt;Page 48&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;12&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;melaksanakan tugas dengan baik. Kondisi kesehatan fisik dan mental&lt;br /&gt;tersebut tidak ditujukan kepada penyandang cacat.&lt;br /&gt;Pasal 46&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 47&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 48 . . .&lt;br /&gt;Pasal 48&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan dosen tetap adalah dosen yang bekerja&lt;br /&gt;penuh waktu yang berstatus sebagai tenaga pendidik tetap pada&lt;br /&gt;satuan pendidikan tinggi tertentu.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan dosen tidak tetap adalah dosen yang&lt;br /&gt;bekerja paruh waktu yang berstatus sebagai tenaga pendidik&lt;br /&gt;tidak tetap pada satuan pendidikan tinggi tertentu.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 49&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 50&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan secara langsung adalah tanpa berjenjang.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Page 49&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;13&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Pasal 51&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;huruf a&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan penghasilan di atas kebutuhan&lt;br /&gt;hidup minimum adalah pendapatan yang cukup untuk&lt;br /&gt;memenuhi kebutuhan hidup dosen dan keluarganya secara&lt;br /&gt;wajar, baik sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan,&lt;br /&gt;rekreasi, maupun jaminan hari tua.&lt;br /&gt;huruf b&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;huruf c&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;huruf d&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;huruf e&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;huruf f . . .&lt;br /&gt;huruf f&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;huruf g&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 52&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan gaji pokok adalah satuan penghasilan&lt;br /&gt;yang ditetapkan berdasarkan pangkat, golongan, dan masa&lt;br /&gt;kerja.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan tunjangan yang melekat pada gaji adalah&lt;br /&gt;tambahan penghasilan sebagai komponen kesejahteraan yang&lt;br /&gt;ditentukan berdasarkan jumlah tanggungan keluarga.&lt;br /&gt;Page 50&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan tunjangan profesi adalah tunjangan yang&lt;br /&gt;diberikan kepada dosen yang memiliki sertifikat pendidik sebagai&lt;br /&gt;penghargaan atas profesionalitasnya.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan tunjangan khusus adalah tunjangan&lt;br /&gt;yang diberikan kepada dosen sebagai kompensasi atas kesulitan&lt;br /&gt;hidup yang dihadapi dalam melaksanakan tugas di daerah&lt;br /&gt;khusus.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan maslahat tambahan adalah tambahan&lt;br /&gt;kesejahteraan yang diperoleh dalam bentuk asuransi, pelayanan&lt;br /&gt;kesehatan, atau bentuk kesejahteraan lain.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 53&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 54&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 55&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Lihat penjelasan Pasal 52 ayat (1)&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (3) . . .&lt;br /&gt;Ayat (3)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Ayat (4)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 56&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Page 51&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Pasal 57&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 58&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 59&lt;br /&gt;Ayat (1)&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan bidang ilmu yang langka adalah ilmu&lt;br /&gt;yang sangat khas, memiliki tingkat kesulitan tinggi, dan/atau&lt;br /&gt;mempunyai nilai-nilai strategis serta tidak banyak diminati.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan dana dan fasilitas khusus adalah alokasi&lt;br /&gt;anggaran dan kemudahan yang diperuntukkan bagi dosen yang&lt;br /&gt;mendalami ilmu langka tersebut.&lt;br /&gt;Ayat (2)&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 60&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 61&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 62&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 63&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 64&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 65&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Page 52&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;16&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Pasal 66 . . .&lt;br /&gt;Pasal 66&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 67&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 68&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 69&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 70&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 71&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 72&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 73&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 74&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 75&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 76&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 77&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Page 53&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;17&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;Pasal 78&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 79&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 80&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 81 . . .&lt;br /&gt;Pasal 81&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 82&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 83&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;Pasal 84&lt;br /&gt;Cukup jelas.&lt;br /&gt;TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4586&lt;br /&gt;Page 54&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;i&lt;br /&gt;-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5975597218828598742-4720104841978034747?l=tomie-education.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tomie-education.blogspot.com/feeds/4720104841978034747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5975597218828598742&amp;postID=4720104841978034747' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/4720104841978034747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/4720104841978034747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tomie-education.blogspot.com/2008/11/undang-undang-republik-indonesia-nomor.html' title='Undang-Undang Guru Dan Dosen'/><author><name>Tomie Yasanda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11149146580229876594</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5975597218828598742.post-1192642497825111189</id><published>2008-11-01T10:59:00.000-07:00</published><updated>2008-11-01T11:00:25.778-07:00</updated><title type='text'>Perkembangan Pembelajaran Lewat Internet</title><content type='html'>Dengan semakin pesatnya perkembangan Teknologi Informasi (TI) maka ada beberapa konsekuensi bagi kita para guru untuk agar juga selalu mengikuti perkembangan tersebut. Selain kita menjadi tahu dengan teknologi kita juga jadi tidak “gaptek”. Apalagi akses internet sekarang ini relatif cepat dan stabil tidak seperti jaman dulu. Untuk akses internet yang saya gunakan adalah jasa dari Telkom Speedy yang cukup murah, sangat murah lagi untuk saya. bahkan gratis. Gimana nggak gratis,….. saya kan setiap hari akses di Madrasah he he. Lumayan cepat, bahkan sangat cepat (dari pengalaman saya). Waktu saya &lt;span class="fullpost"&gt;test ke http://www.sijiwae.net/speddtest atau http://www.telkomsemarang.com, kecepatan bandwithnya ok. Rata-rata ada di kisaran 700 - 900 kbps. Memang saya juga menggunakan telepon rumah untuk akses, pake telkomnet instan. Nggak cepat sih, cuma 50 - 60 kbps tetapi lumayan juga. Dulu rencananya mau pasang speedy, tapi setelah tak pikir-pikir ngapain masang wong di Madrsah saja bisa menggunakan sesuka hati. He he he lagi. Sebenarnya pada dasarnya bukan pada masalah gratis tidaknya, tetapi pada kemauan dan kemampuan kita dalam menggunakannya. Banyak lho orang yang tidak mau menggunakan fasilitas yang sudah disediakan dengan susah payah oleh suatu pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beralih ke awal masalah yang saya sampaikan, kita sebagai guru dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi. Nah, bagi guru-guru geografi di mana saja ada banyak informasi yang bisa kita dapatkan dari internet. Mulai dari materi-materi pelajaran, soal-soal latihan, soal-soal ulangan, perangkat mengajar untuk guru sampai informasi-informasi kebumian yang besifat up to date. Ada banyak situs yang dapat menjadi acuan kita dalam kegiatan pembelajaran, tidak melulu terkekang oleh buku paket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.e-dukasi.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.jardiknas.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi situs pendidikan yang lain yang bisa kita ambil manfaat positifnya. Jadi nggak ada salahnya kita menggunakan internet, justru kita dapat mengembangkan diri dan profesionalisme kita menjadi lebih meningkat dan bermigrasi ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5975597218828598742-1192642497825111189?l=tomie-education.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tomie-education.blogspot.com/feeds/1192642497825111189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5975597218828598742&amp;postID=1192642497825111189' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/1192642497825111189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/1192642497825111189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tomie-education.blogspot.com/2008/11/perkembangan-pembelajaran-lewat.html' title='Perkembangan Pembelajaran Lewat Internet'/><author><name>Tomie Yasanda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11149146580229876594</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5975597218828598742.post-198093854176403371</id><published>2008-11-01T10:31:00.001-07:00</published><updated>2008-11-01T10:43:42.588-07:00</updated><title type='text'>PEMBELAJARAN DENGAN MODEL SIKLUS BELAJAR (LEARNING CYCLE)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_C2Ns8ygPDkc/SQyVQ20bVkI/AAAAAAAAAHg/Ycrd8Nwq2d4/s1600-h/foto-murid-belajar.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C2Ns8ygPDkc/SQyVQ20bVkI/AAAAAAAAAHg/Ycrd8Nwq2d4/s320/foto-murid-belajar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5263746181315122754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; Fauziatul Fajaroh dan I Wayan Dasna&lt;br /&gt;Jurusan Kimia FMIPA UM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Siklus Belajar (Learning Cycle) itu?&lt;br /&gt;Siklus Belajar (Learning Cycle) atau dalam penulisan ini disingkat LC adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada pebelajar (student centered). LC merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga pebelajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif. LC pada mulanya terdiri dari fase-fase eksplorasi&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;(exploration), pengenalan konsep (concept introduction), dan aplikasi konsep (concept application) (Karplus dan Their dalam Renner et al, 1988). Pada tahap eksplorasi, pebelajar diberi kesempatan untuk memanfaatkan panca inderanya semaksimal mungkin dalam berinteraksi dengan lingkungan melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum, menganalisis artikel, mendiskusikan fenomena alam, mengamati fenomena alam atau perilaku sosial, dan lain-lain. Dari kegiatan ini diharapkan timbul ketidakseimbangan dalam struktur mentalnya (cognitive disequilibrium) yang ditandai dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada berkembangnya daya nalar tingkat tinggi (high level reasoning) yang diawali dengan kata-kata seperti mengapa dan bagaimana (Dasna, 2005, Rahayu, 2005). Munculnya pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus merupakan indikator kesiapan siswa untuk menempuh fase berikutnya, fase pengenalan konsep. Pada fase ini diharapkan terjadi proses menuju kesetimbangan antara konsep-konsep yang telah dimiliki pebelajar dengan konsep-konsep yang baru dipelajari melalui kegiatan-kegiatan yang membutuhkan daya nalar seperti menelaah sumber pustaka dan berdiskusi. Pada tahap ini pebelajar mengenal istilah-istilah yang berkaitan dengan konsep-konsep baru yang sedang dipelajari. Pada fase terakhir, yakni aplikasi konsep, pebelajar diajak menerapkan pemahaman konsepnya melalui kegiatan-kegiatan seperti problem solving (menyelesaikan problem-problem nyata yang berkaitan) atau melakukan percobaan lebih lanjut.. Penerapan konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi belajar, karena pebelajar mengetahui penerapan nyata dari konsep yang mereka pelajari. Implementasi LC dalam pembelajaran menempatkan guru sebagai fasilitator yang mengelola berlangsungnya fase-fase tersebut mulai dari perencanaan (terutama pengembangan perangkat pembelajaran), pelaksanaan (terutama pemberian pertanyaan-pertanyaan arahan dan proses pembimbingan) sampai evaluasi. Efektifitas implementasi LC biasanya diukur melalui observasi proses dan pemberian tes. Jika ternyata hasil dan kualitas pembelajaran tersebut ternyata belum memuaskan, maka dapat dilakukan siklus berikutnya yang pelaksanaannya harus lebih baik dibanding siklus sebelumnya dengan cara mengantisipasi kelemahan-kelemahan siklus sebelumnya, sampai hasilnya memuaskan.&lt;br /&gt;LC tiga fase saat ini telah dikembangkan dan disempurnakan menjadi 5 dan 6 fase. Pada LC 5 fase, ditambahkan tahap engagement sebelum exploration dan ditambahkan pula tahap evaluation pada bagian akhir siklus. Pada model ini, tahap concept introduction dan concept application masing-masing diistilahkan menjadi explaination dan elaboration. Karena itu LC 5 fase sering dijuluki LC 5E (Engagement, Exploration, Explaination, Elaboration, dan Evaluation) (Lorsbach, 2002). Pada LC 6 fase, ditambahkan tahap identifikasi tujuan pembelajaran pada awal kegiatan (Johnston dalam Iskandar, 2005). Tahap engagement bertujuan mempersiapkan diri pebelajar agar terkondisi dalam menempuh fase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal dan ide-ide mereka serta untuk mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi pada pembelajaran sebelumnya. Dalam fase engagement ini minat dan keingintahuan (curiosity) pebelajar tentang topik yang akan diajarkan berusaha dibangkitkan. Pada fase ini pula pebelajar diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi. Pada fase exploration, siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru untuk menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan telaah literatur. Pada fase explanation, guru harus mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi. Pada tahap ini pebelajar menemukan istilah-istilah dari konsep yang dipelajari. Pada fase elaboration (extention), siswa menerapkan konsep dan ketrampilan dalam situasi baru melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum lanjutan dan problem solving. Pada tahap akhir, evaluation, dilakukan evaluasi terhadap efektifitas fase-fase sebelumnya dan juga evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau kompetensi pebelajar melalui problem solving dalam konteks baru yang kadang-kadang mendorong pebelajar melakukan investigasi lebih lanjut. Berdasarkan tahapan-tahapan dalam metode pembelajaran bersiklus seperti dipaparkan di atas, diharapkan siswa tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi dapat berperan aktif untuk menggali dan memperkaya pemahaman mereka terhadap konsep-konsep yang dipelajari. Berdasarkan uraian di atas, LC dapat dimplementasikan dalam pembelajaran bidang-bidang sain maupun sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Menggunakan Learning Cycle?&lt;br /&gt;LC patut dikedepankan, karena sesuai dengan teori belajar Piaget (Renner et al, 1988), teori belajar yang berbasis konstruktivisme. Piaget menyatakan bahwa belajar merupakan pengembangan aspek kognitif yang meliputi: struktur, isi, dan fungsi. Struktur intelektual adalah organisasi-organisasi mental tingkat tinggi yang dimiliki individu untuk memecahkan masalah-masalah. Isi adalah perilaku khas individu dalam merespon masalah yang dihadapi. Sedangkan fungsi merupakan proses perkembangan intelektual yang mencakup adaptasi dan organisasi (Arifin, 1995). Adaptasi terdiri atas asimilasi dan akomodasi. Pada proses asimilasi individu menggunakan struktur kognitif yang sudah ada untuk memberikan respon terhadap rangsangan yang diterimanya. Dalam asimilasi individu berinteraksi dengan data yang ada di lingkungan untuk diproses dalam struktur mentalnya. Dalam proses ini struktur mental individu dapat berubah, sehingga terjadi akomodasi. Pada kondisi ini individu melakukan modifikasi dari struktur yang ada, sehingga terjadi pengembangan struktur mental. Pemerolehan konsep baru akan berdampak pada konsep yang telah dimiliki individu. Individu harus dapat menghubungkan konsep yang baru dipelajari dengan konsep-konsep lain dalam suatu hubungan antar konsep. Konsep yang baru harus diorganisasikan dengan konsep-konsep lain yang telah dimiliki. Organisasi yang baik dari intelektual seseorang akan tercermin dari respon yang diberikan dalam menghadapi masalah. Karplus dan Their (dalam Renner et al, 1988) mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan ide Piaget di atas. Dalam hal ini pebelajar diberi kesempatan untuk mengasimilasi informasi dengan cara mengeksplorasi lingkungan, mengakomodasi informasi dengan cara mengembangkan konsep, mengorganisasikan informasi dan menghubungkan konsep-konsep baru dengan menggunakan atau memperluas konsep yang dimiliki untuk menjelaskan suatu fenomena yang berbeda. Implementasi teori Piaget oleh Karplus dikembangkan menjadi fase eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep . Unsur-unsur teori belajar Piaget (asimilasi, akomodasi, dan organisasi) mempunyai korespondensi dengan fase-fase dalam LC (Abraham et al, 1986). Hubungan tersebut disajikan seperi Gambar 1 (Marek dan Cavallo dalam Dasna, 2005).&lt;br /&gt;Laerning Cycle Phases Mental Functioning&lt;br /&gt;Eksplorasi&lt;br /&gt;Asimilasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketidakseimbangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengenalan Konsep&lt;br /&gt;Akomodasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi Konsep&lt;br /&gt;Organisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1 Hubungan Fase-fase dalam LC dengan Teori Piaget&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan fase-fase LC dari 3 fase menjadi 5 atau 6 fase pun masih tetap berkorespondensi dengan mental functioning dari Piaget. Fase engagement dalam LC 5E termasuk dalam proses asimilasi, sedangkan fase evaluation masih merupakan proses organisasi.&lt;br /&gt;Walaupun fase-fase LC dapat dijelaskan dengan teori Piaget, LC juga pada dasarnya lahir dari paradigma konstruktivisme belajar yang lain termasuk teori konstruktivisme sosial Vygotsky dan teori belajar bermakna Ausubel (Dasna, 2005). LC melalui kegiatan dalam tiap fase mewadahi pebelajar untuk secara aktif membangun konsep-konsepnya sendiri dengan cara berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial. Implementasi LC dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan kontruktivis yaitu:&lt;br /&gt;1. Siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berpikir. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman siswa.&lt;br /&gt;2. Informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. Informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu&lt;br /&gt;3. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan pemecahan masalah. (Hudojo, 2001)&lt;br /&gt;Dengan demikian proses pembelajaran bukan lagi sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa, seperti dalam falsafah behaviorisme, tetapi merupakan proses pemerolehan konsep yang berorientasi pada keterlibatan siswa secara aktif dan langsung. Proses pembelajaran demikian akan lebih bermakna dan menjadikan skema dalam diri pebelajar menjadi pengetahuan fungsional yang setiap saat dapat diorganisasi oleh pebelajar untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi dan sekolah menengah tentang implementasi LC dalam pembelajaran sain menunjukkan keberhasilan model ini dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa (Budiasih dan Widarti, 2004; Fajaroh dan Dasna, 2004). Marek dan Methven (dalam Iskandar, 2005) menyatakan bahwa siswa yang gurunya mengimplementasikan LC mempunyai ketrampilan menjelaskan yang lebih baik dari pada siswa yang gurunya menerapkan metode ekspositori. Cohen dan Clough (dalam Soebagio, 2000) menyatakan bahwa LC merupakan strategi jitu bagi pembelajaran sain di sekolah menengah karena dapat dilakukan secara luwes dan memenuhi kebutuhan nyata guru dan siswa. Dilihat dari dimensi guru penerapan strategi ini memperluas wawasan dan meningkatkan kreatifitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran. Sedangkan ditinjau dari dimensi pebelajar, penerapan strategi ini memberi keuntungan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. meningkatkan motivasi belajar karena pebelajar dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran&lt;br /&gt;2. membantu mengembangkan sikap ilmiah pebelajar&lt;br /&gt;3. pembelajaran menjadi lebih bermakna&lt;br /&gt;Adapun kekurangan penerapan strategi ini yang harus selalu diantisipasi diperkirakan sebagai berikut (Soebagio, 2000):&lt;br /&gt;1. efektifitas pembelajaran rendah jika guru kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran&lt;br /&gt;2. menuntut kesungguhan dan kreativitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran&lt;br /&gt;3. memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi&lt;br /&gt;4. memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak dalam menyusun rencana dan melaksanakan pembelajaran.&lt;br /&gt;Bagaimana Mengembangkan Learning Cycle dalam Pembelajaran?&lt;br /&gt;Aktivitas belajar yang dikembangkan dalam tiap fase LC bergantung kepada tujuan pembelajaran. Tabel 1 menyajikan beberapa aktivitas belajar atau metode yang dapat dilakukan dalam tiap fase LC 5E.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1 Aktivitas Belajar dalam Tiap Fase LC 5E&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase Aktivitas Belajar/ Metode&lt;br /&gt;Engagement: menyiapkan (mengkondisikan) diri pebelajar, mengetahui kemungkinan terjadinya miskonsepsi, membangkitkan minat dan keingintahuan (curiosity) pebelajar • Demonstrasi oleh guru atau siswa&lt;br /&gt;• Tanya jawab dalam rangka mengeksplorasi pengetahuan awal, pengalaman, dan ide-ide pebelajar&lt;br /&gt;• Pebelajar diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi&lt;br /&gt;Exploration: pebelajar bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil, menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide • Demonstrasi&lt;br /&gt;• Praktikum&lt;br /&gt;• Mengerjakan LKS (Lembar Kegiatan Siswa)&lt;br /&gt;Explaination: siswa menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri, guru meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka dan mengarahkan kegiatan diskusi, pebelajar menemukan istilah-istilah dari konsep yang dipelajari. • Mengkaji literatur&lt;br /&gt;• Diskusi Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elaboration (extention) : siswa menerapkan konsep dan ketrampilan dalam situasi baru. • Demontrasi lanjutan&lt;br /&gt;• Praktikum lanjutan&lt;br /&gt;• Problem solving&lt;br /&gt;Evaluation : evaluasi terhadap efektifitas fase-fase sebelumnya ; evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau kompetensi pebelajar dalam konteks baru yang kadang-kadang mendorong pebelajar melakukan investigasi lebih lanjut. • Refleksi pelaksanaan pembelajaran&lt;br /&gt;• Tes tulis&lt;br /&gt;• Problem solving&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam membuat rencana pembelajaran berbasis LC, kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam tiap fase harus ditelaah melalui pertanyaan « Konsep apa yang akan diberikan ? » atau « Kompetensi apakah yang harus dikuasai siswa ? » dan « Aktivitas-aktivitas yang bagaimanakah yang harus dikelola dalam tiap fase agar tercapai pemahaman konsep atau terkuasainya kompetensi tersebut ? ». Kegiatan-kegiatan dalam tiap fase harus dirangkai sedemikian rupa sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Kompetensi yang bersifat psikomotorik dan afektif misalnya akan lebih efektif bila dikuasai siswa melalui kegiatan semacam praktikum.&lt;br /&gt;Lingkungan belajar yang perlu diupayakan agar LC berlangsung konstruktivistik adalah :&lt;br /&gt;1. Tersedianya pengalaman belajar yang berkaitan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa&lt;br /&gt;2. Tersedianya berbagai alternatif pengalaman belajar jika memungkinkan&lt;br /&gt;3. Terjadinya transmisi sosial, yakni interaksi dan kerja sama individu dengan lingkungannya&lt;br /&gt;4. Tersedianya media pembelajaran&lt;br /&gt;5. Kaitkan konsep yang dipelajari dengan fenomena sedemikian rupa sehingga siswa terlibat secara emosional dan sosial yang menjadikan pembelajaran berlangsung menarik dan menyenangkan. (Hudojo, 2001)&lt;br /&gt;Berikut ini akan disajikan contoh penerapan LC dalam pembelajaran kimia di SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Penerapan Learning Cycle dalam Pembelajaran&lt;br /&gt;Uraian dalam paragrap ini menyajikan penerapan LC 5E dalam pembelajaran zat aditif di SMA (Fajaroh dan Dasna, 2004) yang terdiri atas 3 siklus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Siklus 1&lt;br /&gt;Skenario&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TPK: Siswa dapat menjelaskan tujuan pemanfaatan zat pewarna makanan, klasifikasi serta aturan pemakaian zat pewarna makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase Kegiatan Guru Kegiatan&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Memancing siswa dengan pertanyaan-pertanyaan untuk membangkitkan motivasi belajar dan menjajagi pengetahuan dan wawasan siswa tentang:&lt;br /&gt;1. kebiasaan yang biasanya dilakukan orang dalam mengolah makanan dalam kaitannya dengan zat pewarna makanan.&lt;br /&gt;2. tujuan penambahan zat pewarna pada pengolahan makanan tersebut&lt;br /&gt;3. kaitan antara penambahan zat pewarna makanan dengan peningkatan nilai gizi makanan.&lt;br /&gt;4. perlu tidaknya aturan pemakaian zat pewarna makanan&lt;br /&gt;5. bagaimana membedakan pewarna alami dan sintetis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membimbing siswa melaksanakan Kegiatan I (Klasifikasi Zat Pewarna Makanan) yakni LKS 1 No. 1.1 sampai 1.4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membimbing diskusi kelas dan menggiring siswa untuk sampai pada kesimpulan bahwa:&lt;br /&gt;(1) penambahan zat pewarna tersebut semata-mata tidak mempengaruhi nilai gizi makanan tapi agar penampilan makanan tersebut lebih menarik untuk memancing selera dan mungkin untuk meningkatkan rasa makanan,&lt;br /&gt;(2) perlunya aturan pemakaian zat pewarna,&lt;br /&gt;(3) ciri-ciri zat pewarna sintetis, (4) kelebihan dan kerugian pemakaian zat pewarna makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menugaskan siswa menjelaskan cara membedakan pewarna sistetis dan alami secara percobaan (LKS 1 No. 1.5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan soal tes:&lt;br /&gt;(1) Sebutkan minimal 2 alasan mengapa orang menggunakan pewarna makanan sebagai zat aditif?&lt;br /&gt;(2) Sebutkan minimal 3 contoh pewarna alami&lt;br /&gt;(3) Apa kelebihan pewarna sintetis dibanding alami?&lt;br /&gt;(4) Apa kekurangan pewarna sintetis disbanding alami? Diskusi kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaksanakan Kegiatan I&lt;br /&gt;Diskusi Kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi kelompok dan Diskusi Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan percobaan 1.5&lt;br /&gt;Diskusi Kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyelesaikan soal tes secara individual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LKS 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab pertanyaan-pertanyaan berikut secara berkelompok pada Lembar Jawaban/Pengamatan yang telah disediakan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Tuliskan nama dan warna “jajanan” yang tersedia pada kelompok Anda!&lt;br /&gt;1.2 Menurut Anda dari bahan pewarna pada “jajanan” tersebut? (bahan pewarna sintetis atau alami). Jelaskan Jawaban anda!&lt;br /&gt;1.3 Bagaimana ciri-ciri bahan pewarna sintetis dan alami? Bandingkan warna makanan dari kunir atau daun suji dengan warna saus “tanpa merk”!&lt;br /&gt;1.4 Bagaimana cara Anda membedakan bahan makanan yang mengandung zat pewarna sintetis dengan bahan makanan yangmengandung zat pewarna alami?&lt;br /&gt;1.5 Kerjakan kegiatan berikut ini:&lt;br /&gt;Pilih 4 orang anggota kelompokmu, sebut saja siswa A, B, C, dan D&lt;br /&gt;Siswa A : ambil sedikit saos tomat merk “Indofood” lalu oleskan pada telapak tangan kirimu. Biarkan saos tersebut mengering di tangan kira-kira 15 menit.&lt;br /&gt;Siswa B : Ambillah sedikit saos tomat dalam botol besar merk “X” lalu oleskan pada telapak tangan kirimu. Biarkan saos tersebut mengering di tangan kira-kira 15 menit.&lt;br /&gt;Siswa C : Ambillah sedikit saos tomat “tanpa merk” lalu oleskan pada telapak tangan kirimu. Biarkan saos tersebut mengering di tangan kira-kira 15 menit.&lt;br /&gt;Siswa D : Geruslah sedikit tomat sampai halus, lalu oleskan pada telapak tangan kirimu. Biarkan tomat halus tersebut mengering di tangan kira-kira 15 menit.&lt;br /&gt;Kemudian cucilah tangan Anda dan catat warna yang membekas pada tangan Anda. Tarik kesimpulan percobaan Anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Siklus II&lt;br /&gt;Skenario&lt;br /&gt;TPK: Siswa dapat menjelaskan dampak pemakaian pewarna berbahaya bagi kesehatan&lt;br /&gt;Fase Kegiatan Guru Kegiatan Siswa&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Memancing keingintahuan siswa tentang efek interaksi dinding usus sapi dengan bermacam-macam pewarna dengan mengingatkan kembali hasil percobaan 1.5 (pengolesan bermacam-macam pewarna makanan pada kulit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menugaskan siswa melaksanakan praktikum efek interaksi dinding usus sapi dengan rhodamin-B (pewarna tekstil), saos bermerk A dan B (LKS 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membimbing diskusi hasil percobaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajak siswa mendiskusikan fenomena penyalahgunaan zat warna di masyarakat serta dampaknya bagi kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan soal tes:&lt;br /&gt;(1) Sebutkan cara-cara membedakan pewarna sintetis dan alami&lt;br /&gt;(2) Apa yang dimaksud dengan penyalahgunaan zat warna?&lt;br /&gt;(3) Apa dampaknya bagi kesehatan? Menjawab pertanyaan guru secara berkelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaksanakan praktikum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi kelompok&lt;br /&gt;Diskusi Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyelesaikan soal tes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LKS 2&lt;br /&gt;Lakukan Kegiatan Berikut secara Berkelompok dan Catat Hasil Pengamatan Anda pada Lembar yang Tersedia!&lt;br /&gt;1. Siapkan 10 g saos merk Indofood, Cherry, dan tomat halus, masing-masing larutkan dalam 10 mL air&lt;br /&gt;2. Masukkan larutan-larutan saos tersebut masing-masing ke dalam potongan usus sapi yang sudah diikat salah satu ujungnya.&lt;br /&gt;3. Ikat ujung usus lainnya, kemudian gantung pada statif dan diamkan selama 45 menit.&lt;br /&gt;4. Keluarkan saos dari usus, cuci usus sampai bersih, amati kemungkinan ada tidaknya zat warna yang tertinggal pada dinding usus, catat hasil pengamatanmu pada lembar pengamatan!&lt;br /&gt;5. Tarik kesimpulan dari percobaan ini&lt;br /&gt;3. Siklus 3&lt;br /&gt;Skenario&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TPK: siswa dapat mengidentifikasi pewarna berbahaya pada makanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase Kegiatan Guru Kegiatan Siswa&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Memancing siswa dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menjajagi pengetahuan dan wawasan siswa tentang berbahaya tidaknya penyalahgunaan zat-zat pewarna non-makanan untuk makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menugaskan siswa melaksanakan praktikum identifikasi kandungan pewarna berbahaya (Rhodamin-B) pada bermacam-macam saos dengan teknik kromatografi kertas dan spot test (LKS 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membimbing diskusi hasil percobaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan pertanyaan kepada kelompok siswa:&lt;br /&gt;(1) Apakah teknik kromatografi kertas dapat digunakan untuk mendeteksi zat pewarna pada makanan selain Rhodamin-B?mengapa?&lt;br /&gt;(2) Apakah teknik spot test dapat digunakan untuk mendeteksi zat pewarna pada makanan selain Rhodamin-B?mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan soal:&lt;br /&gt;Sebutkan cara-cara fisik dan kimia yang dapat dilakukan untuk mendeteksi pewarna berbahaya pada makanan!&lt;br /&gt;Diskusi kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktikum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presentasi kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi dan presentasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyelesaikan soal tes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LKS 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 Identifikasi Rhodamin-B pada Sampel dengan Tes Warna&lt;br /&gt;a. Isi 4 lubang pada pelat tetes masing-masing dengan 1 tetes larutan Rhodamin-B&lt;br /&gt;b. Tambahkan lubang 1 dengan setetes H2SO4&lt;br /&gt;Tambahkan lubang 2 dengan setetes HCl&lt;br /&gt;Tambahkan lubang 3 dengan setetes NaOH&lt;br /&gt;Tambahkan lubang 4 dengan setetesNH4OH&lt;br /&gt;c. Biarkan campuran tersebut kurang lebih 2 menit dan amati perubahan warna yang terjadi&lt;br /&gt;d. Lakukan langkah a s.d. c untuk menguji perubahan warna larutan sampel X dan Y bila ditetesi dengan larutan-larutan H2SO4, HCl, NaOH, dan NH4OH&lt;br /&gt;e. Apakah larutan X dan Y mengandung Rhodamin-B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2 Identifikasi Rhodamin-B pada Sampel dengan Kromatografi Kertas&lt;br /&gt;a. Ke dalam beaker glass yang dinding bagian dalamnya telah dilapisi kertas saring, masukkan 25 mL larutan eluen&lt;br /&gt;b. Siapkan kertas kromatografi dan buatlah garis melintang sekitar 1 cm&lt;br /&gt;dari kedua ujungnya.&lt;br /&gt;c. Siapkan titik noda larutan Rhodamin-B, larutan X, dan larutan Y pada&lt;br /&gt;salah satu garis melintang tersebut dengan pipa kapiler. Atur ketiga noda tersebut sedemikian rupa sehingga tidak berimpit.&lt;br /&gt;d. Lakukan proses elusi sampai eluen mencapai tanda batas.&lt;br /&gt;e. Angkat dan keringkan kertas dengan cara diangin-anginkan.Bandingkan Rf noda Rhodamin-B, X, dan Y.&lt;br /&gt;f. Tarik kesimpulan dari percobaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abraham, M.R., Renner J.W.. 1986.The Sequence of Learning Cycle Activity in High School Chemistry. J. of Research in Science Teaching. Vol 23 (2), pp 121-143.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arifin, M. 1995. Pengembangan Program Pengajaran Bidang Studi Kimia. Surabaya: Airlangga University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiasih, E. , Widarti, H.R. 2004. Penerapan Pendekatan Daur Belajar (Learning Cycle) dalam Pembelajaran Matakuliah Praktikum Kimia Analisis Instrumen. Jurnal Pendidikan dan pembelajaran Vol 10 (1), hal 70-78.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasna, I.Wayan.2005. Kajian Implementasi Model Siklus Belajar (Learning Cycle) dalam Pembelajaran Kimia. Makalah Seminar Nasional MIPA dan Pembelajarannya. FMIPA UM – Dirjen Dikti Depdiknas. 5 September 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajaroh, F., Dasna, I.W. 2003. Penggunaan Model Pembelajaran Learning Cycle Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Dan Hasil Belajar Kimia Zat Aditif Dalam Bahan Makanan Pada Siswa Kelas Ii Smu Negeri 1 Tumpang – Malang. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol 11 (2) Oktober 2004, hal 112-122.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudojo, H. 2001. Pembelajaran Menurut Pandangan Konstruktivisme. Makalah Semlok Konstruktivisme sebagai Rangkaian Kegiatan Piloting JICA. FMIPA UM. 9 Juli 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iskandar, S.M. 2005. Perkembangan dan Penelitian Daur Belajar. Makalah Semlok Pembelajaran Berbasis Konstruktivis. Jurusan Kimia UM. Juni 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lorsbach, A. W. 2002. The Learning Cycle as A tool for Planning Science Instruction. Online (http://www.coe.ilstu.edu/scienceed/lorsbach/257lrcy.html, diakses 10 Desember 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahayu, S., Prayitno. 2005. Penggunaan Strategi Pembelajaran Learning Cycle-Cooperative Learning 5E (LCC-5E). Makalah Seminar Nasional MIPA dan Pembelajarannya. FMIPA UM – Dirjen Dikti Depdiknas. 5 September 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renner, J.W., Abraham M.R.,Birnie, H.H. 1988. The Necessity of Each Phase of The Learning Cycle ini Teaching High School Physics. J. of Research in Science Teaching. Vol 25 (1), pp 39-58.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soebagio dkk. 2000. Penggunaan Siklus belajar dan Peta Konsep untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran Konsep Larutan Asam-Basa. PPGSM.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5975597218828598742-198093854176403371?l=tomie-education.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tomie-education.blogspot.com/feeds/198093854176403371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5975597218828598742&amp;postID=198093854176403371' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/198093854176403371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/198093854176403371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tomie-education.blogspot.com/2008/11/pembelajaran-dengan-model-siklus.html' title='PEMBELAJARAN DENGAN MODEL SIKLUS BELAJAR (LEARNING CYCLE)'/><author><name>Tomie Yasanda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11149146580229876594</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_C2Ns8ygPDkc/SQyVQ20bVkI/AAAAAAAAAHg/Ycrd8Nwq2d4/s72-c/foto-murid-belajar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5975597218828598742.post-395525882063565375</id><published>2008-11-01T09:34:00.000-07:00</published><updated>2008-11-01T09:35:26.952-07:00</updated><title type='text'>Lowongan Kerja Aston Palembang</title><content type='html'>Aston Palembang Hotel &amp; Convention Center is currently seeking for the following positions :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Executive Housekeeper (EHK)&lt;br /&gt;    * Chef De Partie (CDP) Pastry&lt;br /&gt;    * Pastry Chef&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;General Requirements :&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;� Minimum of 2 years experience in related positions preferable from 4 - 5 star hotels&lt;br /&gt;� Good command in English, both oral and written&lt;br /&gt;� Good Leadership&lt;br /&gt;� Computer Literate&lt;br /&gt;� Honest and hard worker&lt;br /&gt;� Good Teamwork and mature&lt;br /&gt;� For CDP / Pastry Chef : Creative , mastering in making ice carving and chocolate&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Please send applications include resume, expected salary and recent colour photograph to :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Human Resources Director&lt;br /&gt;Aston Palembang Hotel &amp; Convention Center&lt;br /&gt;Jl. POM IX KAMPUS&lt;br /&gt;PALEMBANG&lt;br /&gt;e-mail : hrd@astonpalembang.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5975597218828598742-395525882063565375?l=tomie-education.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tomie-education.blogspot.com/feeds/395525882063565375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5975597218828598742&amp;postID=395525882063565375' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/395525882063565375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/395525882063565375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tomie-education.blogspot.com/2008/11/lowongan-kerja-aston-palembang.html' title='Lowongan Kerja Aston Palembang'/><author><name>Tomie Yasanda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11149146580229876594</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5975597218828598742.post-2479195719393109186</id><published>2008-11-01T09:14:00.000-07:00</published><updated>2008-11-01T09:16:17.876-07:00</updated><title type='text'>Job For FISIP</title><content type='html'>Your job search is: fakultas ilmu sosial politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Universitas Indonesia (UI) mengundang putra putri terbaik bangsa baik staf pengajar, alumni UI, maupun masyarakat luas untuk menjadi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Imlu Politik periode 2006 - 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan Umum:&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Calon Dekan berkewarganegaraan Indonesia (tidak pernah kehilangan kewarganegaraan Indonesia)&lt;br /&gt;2. Sehat jasmani dan rohani.&lt;br /&gt;2. Bergelar Doktor sesuai dengan bidang ilmu yang dikelola Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI (Antropologi, Ilmu Administrasi, Ilmu Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, Ilmu Kesejahteraan Sosial, Kriminologi, Ilmu Politik dan Sosiologi)&lt;br /&gt;4. Memiliki integritas moral.&lt;br /&gt;5. Memiliki komitmen terhadap UI&lt;br /&gt;6. Berpengalaman di bidang manajeman.&lt;br /&gt;7. Memiliki jiwa kepemimpinan&lt;br /&gt;8. Memiliki jiwa kewirausahaan&lt;br /&gt;9. Berwawasan luas mengenai pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang merasa tertantang dan memenuhi persyaratan dapat mengambil berkas Persyaratan Calon Dekan mulai tanggal 18 Oktober 2006 pada hari kerja pukul 09.00-16.00 dan menyerahkan kelengkapan berkas lamaran paling lambat tanggal 17 November 2006 pukul 09.00-16.00 di Sekretariat Panitia Calon Dekan (PSCD) UI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan lebih lanjut dapat diperoleh lanjut di:&lt;br /&gt;Sekretariat Panitia Seleksi Calon Dekan (PSCD) UI&lt;br /&gt;Direktorat SDM&lt;br /&gt;Gedung PAUI, Lantai VIII Kampus UI Depok 16424&lt;br /&gt;Telp 021- (786 7222 ext 100 803, Telp/ Fax 021 78849063&lt;br /&gt;Email: caldekui@ui.edu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi Lowongan Dekan Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Indonesia dari Informasi Beasiswa Scholarship&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5975597218828598742-2479195719393109186?l=tomie-education.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tomie-education.blogspot.com/feeds/2479195719393109186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5975597218828598742&amp;postID=2479195719393109186' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/2479195719393109186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/2479195719393109186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tomie-education.blogspot.com/2008/11/job-for-fisip.html' title='Job For FISIP'/><author><name>Tomie Yasanda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11149146580229876594</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5975597218828598742.post-7831201663732818413</id><published>2008-10-28T23:16:00.000-07:00</published><updated>2008-10-30T08:05:25.437-07:00</updated><title type='text'>INTEGRAL RANGKAP INTEGRAL GANDA</title><content type='html'>Integral untuk fungsi satu variable, kita membentuk suatu partisi dari interval [a,b] menjadi interval-interval yang panjangnya Δxk , k = 1, 2, 3, 4, ….n.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara yang sama, &lt;span class="fullpost"&gt;Kita definisikan integral untuk fungsi dua variable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalkan fungsi z = f(x,y) didefinisikan pada suatu daerah tertutup R di bidang xoy. Kemudian daerah ini dibagi atas n buah sub daerah yang masing-masing luasnya A1 , A2 , A3 …… An&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap sub daerah, pilih suatu titik Pk(xk, yk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan bentuklah jumlah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika jumlah sub daerah makin besar (n→~), maka integral rangkap (lipat dua) dari fungsi f(x,y) atas daerah R didefinisikan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghitung integral lipat dua dapat digunakan integral berulang yang ditulis dalam bentuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. clip_image008clip_image010clip_image012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimana integral yang ada dalam kurung harus dihitung terlebih dahulu dengan menganggap variable y konstanta, kemudian hasilnya diintegral kembali terhadap y.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. clip_image008[1]clip_image014clip_image016&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimana integral yang ada dalam kurung harus dihitung terlebih dahulu dengan menganggap variable x konstanta, kemudian hasilnya diintegral kembali terhadap x.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika integral lipat dua diatas ada, maka (a) dan (b) secara umum akan memberikan hasil yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTEGRAL LIPAT DUA DENGAN BATAS PERSEGI PANJANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk umum :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image018&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimana : R = { (x,y) ; a ≤ x ≤ b,c ≤ y ≤ d }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a,b,c dan d adalah konstanta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image020&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image022&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image024&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image026&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTEGRAL LIPAT DUA DENGAN BATAS BUKAN PERSEGI PANJANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image028&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimana :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R = { (x,y) ; f1(x) ≤ y ≤ f2(x) ,a ≤ x ≤ b }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image030&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimana :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R = { (x,y) ; f1(y) ≤ x ≤ f2(y) ,c ≤ y ≤ d }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image032&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image034&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image036&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image038&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APLIKASI INTEGRAL LIPAT DUA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi integral lipat dua yang bentuk umumnya : clip_image040&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dapat dijelaskan sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. LUAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas bidang dapat dipandang sebagai integral lipat dua jika f(x,y) = 1 , sehingga integral lipat dua menjadi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image042&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam koordinat polar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image044&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitung luas daerah yang dibatasi oleh x + y = 2 dan 2y = x + y&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;clip_image046&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5975597218828598742-7831201663732818413?l=tomie-education.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tomie-education.blogspot.com/feeds/7831201663732818413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5975597218828598742&amp;postID=7831201663732818413' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/7831201663732818413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/7831201663732818413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tomie-education.blogspot.com/2008/10/integral-rangkap-integral-ganda.html' title='INTEGRAL RANGKAP INTEGRAL GANDA'/><author><name>Tomie Yasanda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11149146580229876594</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5975597218828598742.post-7814515717298045407</id><published>2008-10-28T08:43:00.001-07:00</published><updated>2008-10-30T08:03:49.112-07:00</updated><title type='text'>INOVASI MODEL DAN EVALUASI PEMBELAJARAN</title><content type='html'>Pengajar, desain pembelajaran, dan peserta didik adalah 3 (tiga) hal yang selalu disebut saat kita ingin berbicara tentang proses pembelajaran. Mengapa demikian ? karena sesungguhnya 3 (tiga) hal tersebutlah yang menjadi motor dalam pergerakan sebuah roda pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajar disini dapat diartikan secara luas, apalagi dalam era internetisasi saat ini. Salah satu dampak yang ditimbulkannya pada dunia pendidikan adalah munculnya metode-metode pembelajaran secara elektronik (elearning atau online learning). Hal tersebut akhirnya berimbas pada cara guru dalam menyampaikan atau membahasakan materi di kelas, dari yang sebelumnya bertutur atau lisan menjadi tulisan. Namun demikian, peran guru atau pengajar di kelas tidak dapat tergantikan karena tidak semua peserta didik mampu belajar dan memahami materi secara mandiri. Untuk mengatasinya adalah dengan cara memblend antara metode klasikal dan elektronik (adanya hybrid instruction).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Gagne, Briggs, &amp; Wager (dalam Prawiradilaga, 2007) desain pembelajaran membantu proses belajar seseorang, dimana proses belajar itu sendiri memiliki tahapan segera dan jangka panjang. Mereka percaya proses belajar terjadi karena adanya kondisi-kondisi belajar, internal maupun eksternal. Tapi menurut Kemp, Morrison, &amp; Ross (dalam Prawiradilaga, 2007) esensi disain pembelajaran mengacu pada keempat komponen inti, yaitu siswa, tujuan pembelajaran, metode, dan penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta didik adalah semua individu yang menjadi audiens dalam suatu lingkup pembelajaran. Biasanya penyebutan peserta didik ini mengikuti skup/ruang lingkup dimana pembelajaran dilaksanakan, diantaranya : siswa untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, mahasiswa untuk jenjang pendidikan tinggi, dan peserta pelatihan untuk diklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta didik adalah masukan mentah (raw input) dalam sebuah proses pembelajaran yang harus dithreat agar output dan outcomesnya sesuai dengan yang dicanangkan institusi (khususnya) dan dunia pendidikan Indonesia pada umumnya. Agar keluarannya dapat beradaptasi dengan kemajuan zaman, maka sudah sepatutnya materi dan cara pembelajarannyapun disesuaikan dengan dunia nyata juga. Hal tersebut biasa dikenal dengan model pembelajaran inovatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaianpun juga sudah melakukan terobosan atau inovasi. Terbukti, saat ini paper and pen bukanlah satu-satunya cara untuk menilai keberhasilan belajar peserta didik. Asesmen portofolio, autentik, dan lain-lain adalah sedikit dari banyak inovasi cara menilai keberhasilan peserta didik yang lebih menitikberatkan pada proses.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5975597218828598742-7814515717298045407?l=tomie-education.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tomie-education.blogspot.com/feeds/7814515717298045407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5975597218828598742&amp;postID=7814515717298045407' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/7814515717298045407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/7814515717298045407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tomie-education.blogspot.com/2008/10/inovasi-model-dan-evaluasi-pembelajaran.html' title='INOVASI MODEL DAN EVALUASI PEMBELAJARAN'/><author><name>Tomie Yasanda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11149146580229876594</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5975597218828598742.post-3042188583773502439</id><published>2008-10-28T08:39:00.001-07:00</published><updated>2008-10-30T08:02:24.209-07:00</updated><title type='text'>EVALUASI PEMBELAJARAN</title><content type='html'>A. Pengertian Evaluasi Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, dalam konteks penilaian ada beberapa istilah yang digunakan, yakni pengukuran, assessment dan evaluasi. Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Unsur pokok dalam kegiatan pengukuran ini, antara lain adalahsebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). tujuan pengukuran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). ada objek ukur,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). alat ukur, (&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). proses pengukuran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5). hasil pengukuran kuantitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, &lt;span class="fullpost"&gt;pengertian asesmen (assessment) adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan. Sedangkan evaluasi secara etimologi berasal dari bahasa Inggeris evaluation yang bertarti value, yang secara secara harfiah dapat diartikan sebagai penilaian. Namun, dari sisi terminologis ada beberapa definisi yang dapat dikemukakan, yakni: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik dan terarah berdasarkan atas tujuan yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). Proses penentuan nilai berdasarkan data kuantitatif hasil  pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Berdasarkan pada berbagai batasan 3 jenis penilaian di atas, maka dapat diketahui bahwa perbedaan antara evaluasi dengan pengukuran adalah dalam hal jawaban terhadap pertanyaan “what value” untuk evaluasi dan “how much” untuk pengukuran. Adapun asesmen berada di antara kegiatan pengukuran dan evaluasi. Artinya bahwa sebelum melakukan asesmen ataupun evaluasi lebih dahulu dilakukan pengukuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun makna dari ketiga istilah (measurement, assessment, evaluation) secara teoretik definisinya berbeda, namun dalam kegiatan pembelajaran terkadang sulit untuk membedakan dan memisahkan batasan antara ketiganya, dan evaluasi pada umumnya diawali dengan kegiatan pengukuran (measurement) serta pembandingan (assessment).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guru  akan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik. Adapun langkah-langkah pokok dalam penilaian secara umum terdiri dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) perencanaan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) pengumpulan data,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) verifikasi data,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) analisis data, dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) interpretasi data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tujuan dan Fungsi Evaluasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka perbaikan.&lt;br /&gt;Selain fungsi di atas, penilaian juga dapat berfungsi sebagai alat seleksi, penempatan, dan diagnostik,  guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil pembelajaran. Penjelasan dari setiap fungsi tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Fungsi seleksi. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan seleksi, yaitu menyeleksi calon peserta suatu lembaga pendidikan/kursus berdasarkan kriteria tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Fungsi Penempatan. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan penempatan agar setiap orang (peserta pendidikan) mengikuti pendidikan pada jenis dan/atau jenjang pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). Fungsi Diagnostik. Evaluasi diagnostik berfungsi atau dilaksanakan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami peserta didik, menentukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesulitan belajar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Penilaian Berbasis Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian berkelanjutan, otentik, akurat, dan konsisten dalam kegiatan pembelajaran di bawah kewenangan guru di kelas. PBK mengidentifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan. Bila selama dekade terakhir ini keberhasilan belajar siswa hanya ditentukan oleh nilai ujian akhir (EBTANAS/UAN), maka dengan diberlakukannya PBK hal itu tidak terjadi lagi. Naik atau tidak naik dan lulus atau tidak lulus siswa sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru (sekolah) berdasarkan kemajuan proses dan hasil belajar siswa di sekolah bersangkutan. Dalam hal ini kewenangan guru menjadi sangat luas dan menentukan. Karenanya, peningkatan kemampuan profesional dan integritas moral guru dalam PBK merupakan suatu keniscayaan, agar terhindar dari upaya manipulasi nilai siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBK menggunakan arti penilaian sebagai “assessment”, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar siswa pada tingkat kelas selama dan setelah kegiatan pembelajaran. Data atau informasi dari penilaian di kelas ini merupakan salah satu bukti yang digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu program pendidikan. PBK merupakan bagian dari evaluasi pendidikan karena lingkup evaluasi pendidikan secara umum jauh lebih luas dibandingkan PBK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBK mencakup kegiatan pengumpulan informasi tentang pencapaian hasil belajar siswa dan pembuatan keputusan tentang hasil belajar siswa berdasarkan informasi tersebut. Pengumpulan informasi dalam PBK dapat dilakukan dalam suasana resmi maupun tidak resmi, di dalam atau di luar kelas, menggunakan waktu khusus atau tidak, misalnya untuk penilaian aspek sikap/nilai dengan tes atau non tes atau terintegrasi dalam seluruh kegiatan pembelajaran (di awal, tengah, dan akhir). Di sekolah sering digunakan istilah tes untuk kegiatan PBK dengan alasan kepraktisan, karena tes sebagai alat ukur sangat praktis digunakan untuk melihat prestasi siswa dalam kaitannya dengan tujuan yang telah ditentukan, terutama aspek kognitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila informasi tentang hasil belajar siswa telah terkumpul dalam jumlah yang memadai, maka guru perlu membuat keputusan terhadap prestasi siswa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Apakah siswa telah mencapai kompetensi seperti yang telah ditetapkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Apakah siswa telah memenuhi syarat untuk maju ke tingkat lebih lanjut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Apakah siswa harus mengulang bagian-bagian tertentu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Apakah siswa perlu memperoleh cara lain sebagai pendalaman (remedial)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5). Apakah siswa perlu menerima pengayaan (enrichment)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6). Apakah perbaikan dan pendalaman program atau kegiatan pembelajaran, pemilihan bahan ajar atau buku ajar, dan penyusunan silabus telah memadai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pelaksanaan PBK, peranan guru sangat penting dalam menentukan ketepatan jenis penilaian untuk menilai keberhasilan atau kegagalan siswa. Jenis penilaian yang dibuat oleh guru harus memenuhi standar validitas dan reliabilitas, agar hasil yang dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan. Untuk itu, kompetensi profesional bagi guru merupakan persyaratan penting. PBK yang dilaksanakan oleh guru, harus memberikan makna signifikan bagi orang tua dan masyarakat pada umumnya, dan bagi siswa secara individu pada khususnya, agar perkembangan prestasi siswa dari waktu ke waktu dapat diamati (observable) dan terukur (measurable). Di samping itu, dengan dilaksanakannya PBK diharapkan dapat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Memberikan umpan balik bagi siswa mengenai kemampuan dan kekurangannya, sehingga menumbuhkan motivasi untuk memperbaiki prestasi belajar pada waktu berikutnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar siswa, sehingga memungkinkan dilakukannya pengayaan dan remediasi untuk memenuhi kebutuhan siswa sesuai dengan perkembangan, kemajuan dan kemampuannya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). Memberikan masukan kepada guru untuk memperbaiki program pembelajarannya di kelas apabila terjadi hambatan dalam proses pembelajaran;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d). Memungkinkan siswa mencapai kompetensi yang telah ditentukan, walaupun dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda antara masing-masing individu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan informasi yang lebih komunikatif kepada masyarakat tentang efektivitas pendanaan, sehingga mereka dapat meningkatkan partisipasinya di bidang pendidikan secara serius dan konsekwen.&lt;br /&gt;m Prinsip-prinsip PBK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari kurikulum berbasis kompetensi, pelaksanaan PBK sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan komponen yang ada di dalamnya. Namun demikian, guru mempunyai posisi sentral dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan kegiatan penilaian. Untuk itu, dalam pelaksanaan penilaian  harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Valid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBK harus mengukur obyek yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis alat ukur yang tepat atau sahih (valid). Artinya, ada kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran. Apabila alat ukur tidak memiliki kesahihan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka data yang masuk salah sehingga kesimpulan yang ditarik juga besar kemungkinan menjadi salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Mendidik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBK harus memberikan sumbangan positif pada pencapaian hasil belajar siswa. Oleh karena itu, PBK harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan untuk memotivasi siswa yang berhasil (positive reinforcement) dan sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil (negative reinforcement), sehingga keberhasilan dan kegagalan siswa harus tetap diapresiasi dalam penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Berorientasi pada kompetensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBK harus menilai pencapaian kompetensi siswa yang meliputi seperangkat pengetahuan, sikap, dan ketrampilan/nilai yang terefleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Dengan berpijak pada kompetensi ini, maka ukuran-ukuran keberhasilan pembelajaran akan dapat diketahui secara jelas dan terarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Adil dan obyektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBK harus mempertimbangkan rasa keadilan dan obyektivitas siswa, tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, latar belakang budaya, dan berbagai hal yang memberikan kontribusi pada pembelajaran. Sebab ketidakadilan dalam penilaian, dapat menyebabkan menurunnya motivasi belajar siswa, karena merasa dianaktirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5). Terbuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBK hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan (stakeholders) baik langsung maupun tidak langsung, sehingga keputusan tentang keberhasilan siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada rekayasa atau sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6). Berkesinambungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBK harus dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan dari waktu ke waktu, untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan siswa, sehingga kegiatan dan unjuk kerja siswa dapat dipantau melalui penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7). Menyeluruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBK harus dilakukan secara menyeluruh, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta berdasarkan pada strategi dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar siswa yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8). Bermakna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBK diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. Untuk itu, PBK hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Hasil penilaian hendaknya mencerminkan gambaran yang utuh tentang prestasi siswa yang mengandung informasi keunggulan dan kelemahan, minat dan tingkat penguasaan siswa dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain harus memenuhi prinsip-prinsip umum penilaian, pelaksanaan PBK juga harus memegang prinsip-prinsip khusus sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun jenis penilaiannya, harus memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui dan pahami, serta mendemonstrasikan kemampuan yang dimilikinya; Setiap guru harus mampu melaksanakan prosedur PBK dan pencatatan secara tepat prestasi yang dicapai siswa.&lt;br /&gt;m Keunggulan PBK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan salah satu komponen dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Penilaian ini dilaksanakan oleh guru secara variatif dan terpadu dengan kegiatan pembelajaran di kelas, oleh karena itu disebut penilaian berbasis kelas (PBK). PBK dilakukan dengan pengumpulan kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja/penampilan (performance), dan tes tertulis (paper and pencil). Guru menilai kompetensi dan hasil belajar siswa berdasarkan level pencapaian prestasi siswa.  Karenanya, PBK dapat dikatakan sebagai bentuk penilaian yang paling komprehensip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Harus disadari oleh semua pihak, bahwa sesungguhnya guru itulah yang paling mengetahui kemampuan atau kemajuan belajar siswa, bukan kepala sekolah, pengawas, apalagi pejabat struktural di Departemen atau Dinas Pendidikan. Sebab, gurulah yang sehari-hari berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa di dalam kelas dan di lingkungan sekolah. Dengan demikian, PBK yang memberi kewenangan sangat leluasa kepada guru untuk menilai siswa merupakan suatu keunggulan agar diperoleh hasil belajar yang akurat sesuai dengan kemampuan siswa yang sebenarnya. Selain itu, di dalam PBK guru tentu tidak dapat menilai sekehendak hatinya, melainkan harus menyampaikan secara terbuka kepada siswa untuk menyepakati bersama kompetensi yang telah dicapai oleh siswa dan standar nilai yang diberikan oleh guru.&lt;br /&gt;m Pelaksanaan PBK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian dilakukan terhadap hasil belajar siswa berupa kompetensi sebagaimana yang tercantum dalam KBM setiap mata pelajaran. Di samping mengukur hasil belajar siswa sesuai dengan ketentuan kompetensi setiap mata pelajaran masing-masing kelas dalam kurikulum nasional, penilaian juga dilakukan untuk mengetahui kedudukan atau posisi siswa dalam 8 level kompetensi yang ditetapkan secara nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian berbasis kelas harus memperlihatkan tiga ranah yaitu: pengetahuan (koknitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik) Ketiga ranah ini sebaikanya dinilai proposional sesuai dengan sifat mata pelajaran yang bersangkutan. Sebagai contoh pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (Al-Quran, Aqidah-Akhlaq, fiqh, dan tarikh) penilaiannya harus menyeluruh pada segenap aspek kognitif, afektif dan psikomotorik,  dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan siswa serta bobot setiap aspek dari setiap materi. Misalnya kognitif meliputi seluruh mata pelajaran, aspek afektif sangat dominan pada materi pembelajaran akhlak, PPkn, seni. Aspek psikomotorik sangat dominan pada mata pelajaran fiqh, membaca Al Quran, olahraga, dan sejenisnya. Begitu juga halnya dengan mata pelajaran yang lain, pada dasarnya ketiga aspek tersebut harus dinilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian adalah prinsip kontinuitas, yaitu guru secara terus menerus mengikuti pertumbuhan, perkembangan dan perubahan siswa. Penilaiannya tidak saja merupakan kegiatan tes formal, melainkan juga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Perhatian terhadap siswa ketika duduk, berbicara, dan bersikap pada waktu belajar atau berkomunikasi dengan guru dan sesama teman;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Pengamatan ketika siswa berada di ruang kelas, di tempat ibadah dan ketika mereka bermain;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Mengamati siswa membaca Al-Qur an dengan tartil (pada setiap awal jam pelajaran selama 5 – 10 menit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dari berbagai pengamatan itu ada yang perlu dicatat secara tertulis terutama tentang perilaku yang ekstrim/menonjol atau kelainan pertumbuhan yang kemudian harus diikuti dengan langkah bimbingan. Penilaian terhadap pengamatan dapat digunakan observasi, wawancara, angket, kuesioner, sekala sikap dan catatan anekdot (anecdotal record).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Teknik Penilaian Proses dan Hasil Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keperluan evaluasi diperlukan alat evaluasi yang bermacam-macam, seperti kuesioner, tes, skala, format observasi, dan lain-lain. Dari sekian banyak alat evaluasi, secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni alat tes dan nontes. Khusus untuk evaluasi hasil pembelajaran alat evaluasi yang paling banyak digunakan adalah tes. Oleh karena itu, pembahasan evaluasi hasil pembelajaran dengan lebih menekankan pada pemberian nilai terhadap skor hasil tes, juga secara khusus akan membahas pengembangan tes untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas tes sebagai alat evaluasi.&lt;br /&gt;1). Teknik Tes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes secara harfiah berasal dari bahasa Prancis kuno “testum” artinya    piring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh sesesorang atau kelompok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Berdasarkan definisi tersebut, dapat dijelaskan bahwa tes merupakan alat ukur yang berbentuk pertanyaan atau latihan, dipergunakan untuk mengukur kemampuan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang. Sebagai alat ukur dalam bentuk pertanyaan, maka tes harus dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan dan kemampuan obyek yang diukur. Sedangkan sebagai alat ukur berupa latihan, maka tes harus dapat mengungkap keterampilan dan bakat seseorang atau sekelompok orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Tes merupakan alat ukur yang standar dan obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu.Dengan demikian berarti sudah dapat dipastikan akan mampu memberikan informasi yang tepat dan obyektif tentang obyek yang hendak diukur baik berupa psikis maupun tingkah lakunya, sekaligus dapat membandingkan antara seseorang dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Jadi dapat disimpulkan bahwa tes adalah suatu cara atau alat untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh siswa atau sekelompok siswa sehingga menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi siswa tersebut. Prestasi atau tingkah laku tersebut dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan intruksional pembelajaran atau tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi yang telah diberikan dalam proses pembelajaran, dan dapat pula menunjukkan kedudukan siswa yang bersangkutan dalam kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan dengan rumusan tersebut, sebagai alat evaluasi hasil belajar, tes minimal mempunyai dua fungsi, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Untuk menentukan kedudukan atau perangkat siswa dalam kelompok, tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi (a) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan program pembelajaran, sedang fungsi (b) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan belajar masing-masing individu peserta tes.&lt;br /&gt;2). Tes  Menurut Tujuannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari segi tujuannya dalam bidang pendidikan, tes dapat dibagi menjadi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Tes Kecepatan (Speed Test)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes (testi) dalam hal kecepatan berpikir atau keterampilan, baik yang bersifat spontanitas (logik) maupun hafalan dan pemahaman dalam mata pelajaan yang telah dipelajarinya. Waktu yang disediakan untuk menjawab atau menyelesaikan seluruh materi tes ini relatif singkat dibandingkan dengan tes lainnya, sebab yang lebih diutamakan adalah waktu yang minimal dan dapat mengerjakan tes itu sebanyak-banyaknya dengan baik dan benar, cepat dan tepat penyelesaiannya.  Tes yang termasuk kategori tes kecepatan misalnya tes intelegensi, dan tes ketrampilan bongkar pasang suatu alat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Tes Kemampuan (Power Test)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes dalam mengungkapkan kemampuannya (dalam bidang tertentu) dengan tidak dibatasi secara ketat oleh waktu yang disediakan. Kemampuan yang dievaluasi bisa berupa kognitif maupun psikomotorik. Soal-soal biasanya relatif sukar menyangkut berbagai konsep dan pemecahan masalah dan menuntut peserta tes untuk mencurahkan segala kemampuannya baik analisis, sintesis dan evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). Tes Hasil Belajar (Achievement Test)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes ini dimaksudkan untuk mengevaluasi hal yang telah diperoleh dalam suatu kegiatan. Tes Hasil Belajar (THB), baik itu tes harian (formatif) maupun tes akhir semester (sumatif) bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam suatu kurun waktu tertentu. Makalah ini akan lebih banyak memberikan penekanan pada tes hasil belajar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d). Tes Kemajuan Belajar ( Gains/Achievement Test)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes kemajuan belajar disebut juga dengan tes perolehan adalah tes untuk mengetahui kondisi awal testi sebelum pembelajaran dan kondisi akhir testi setelah pembelajaran. Untuk mengetahui kondisi awal testi digunakan pre-tes dan kondisi akhir testi digunakan post-tes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e). Tes Diagnostik (Diagnostic Test)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes diagnostik adalah tes yang dilaksanakan untuk mendiagnosis atau mengidentifikasi kesukaran-kesukaran dalam belajar, mendeteksi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesukaran belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesukaran atau kesulitan belajar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f). Tes Formatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes formatif adalah penggunaan tes hasil belajar untuk mengetahui sejauh mana kemajuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program pembelajaran tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g). Tes Sumatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah sumatif berasal dari kata “sum” yang berarti jumlah. Dengan demikian tes sumatif berarti tes yang ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa dalam sekumpulan materi pelajaran (pokok bahasan) yang telah dipelajari.&lt;br /&gt;3). Bentuk Tes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari jawaban siswa yang dituntut dalam menjawab atau memecahkan persoalan yang dihadapinya, maka tes hasil belajar dapat dibagi menjadi 3 jenis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Tes lisan (oral test)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Tes tertulis (written test)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). Tes tindakan atau perbuatan (performance test)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan setiap jenis tes tersebut seyogyanya disesuaikan dengan kawasan (domain) perilaku siswa yang hendak diukur. Misalnya tes tertulis atau tes lisan dapat digunakan untuk mengukur kawasan kognitif, sedangkan kawasan psikomotorik cocok dan tepat apabila diukur dengan tes tindakan, dan kawasan afektif biasanya diukur dengan skala perilaku, seperti skala sikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bentuk Soal Pilihan Ganda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan dari bentuk soal pilihan ganda ini, antara lain adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Pensekoran mudah, cepat, serta objektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Dapat mencakup ruang lingkup bahan/materi yang luas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). Mampu mengungkap tingkat kognitif rendah sampai tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, selain memilliki keunggulan, soal pilihan ganda juga memiliki kelemahan, antara lain adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Menuliskan soalnya relatif lebih sulit dan lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Memberi peluang siswa untuk menebak jawaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). Kurang mampu meningkatkan daya nalar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bentuk Soal Uraian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan dari bentuk soal uraian ini, antara lain adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). dapat mengukur kemampuan mengorganisasikan pikiran,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). menganalisis masalah, dan mengemukakan gagasan secara rinci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). relatif mudah dan cepat menuliskan soalnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d). mengurangi faktor menebak dalam menjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, selain memiliki keunggulan, soal uraian juga memiliki kelemahan, antara lain adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). jumlah materi (PB/SPB) yang dapat diungkap terbatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Pengoreksian/scoring lebih sukar dan subjektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). tingkat reliabilitas soal relaitf lebih rendah&lt;br /&gt;4). Ciri-ciri Tes yang Baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah test dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi kriteria, yaitu memiliki validitas, reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas dan ekonomis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Validitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah alat pengukur dapat dikatakan valid apabila alat pengukur tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur secara tepat. Demikian pula dalam alat-alat evaluasi. Suatu tes dapat dikatakan memiliki validitas yang tinggi  apabila tes itu tersebut betul-betul dapat mengukur hasil belajar. Jadi bukan sekedar mengukur daya ingatan atau kemampuan bahasa saja misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih mendukung memahami pengertian tersebut selanjutnya akan diuraikan beberapa macam kriteria validitas, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Content validity (validitas isi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengujian jenis validitas ini dilakukan secara logis dan rasional karena itu disebut juga rational validity atau logical validity.Batasan content validity ini menggambarkan sejauh mana tes mampu mengukur materi pelajaran yang telah diberikan secara representatif dan sejauh mana pula tes dapat mengukur sampel yang representatif dari perubahan-perubahan perilaku yang diharapkan terjadi pada diri siswa. Dengan demikian suatu tes hasil belajar disebut memiliki validitas tinggi secara content, bila tes tersebut sudah dapat mengukur sampel yang representatif dari materi pelajaran (subject matter) yang diberikan, dan perubahan-perubahan perilaku (behavioral changes) yang diharapkan terjadi pada diri siswa. Misalnya apabila kita ingin memberikan tes bahasa inggris untuk kelas II, maka item-itemnya harus diambil dari bahan pelajaran kelas II. Kalau diambilnya dari kelas III maka tes itu tidak valid lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Predictive validity (validitas ramalan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Validitas ramalan artinya ketepatan (kejituan) suatu alat pengukur ditunjau dari kemampuan tes tersebut untuk meramalkan prestasi yang dicapainya kemudian. Suatu tes hasil  belajar dapat dikatakan mempunyai validitas ramlan yang tinggi, apabila hasil yang dicapai siswa dalam tes tersebut betul-betul meramalakan sukses tidaknya siswa tersebut dakam pelajaran-pelajaran yang akan datang. Cara yang digunakan untuk mengukur tinggi rendahnya validitas ramalan ialah dengan mencari korelasi antara nilai-nilsi yang dicapai oleh anak-anak dalam tes tersebut dengan nilai-nilai yang dicapai kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Concurent validity (Validitas bandingan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejituan suatu tes dilihat dari korelasinya terhadap kecakapan yang telah  dimiliki  saat kini secara riil. Cara yang digunakan untuk menilai validitas bandingan ialah dengan jalan mengkorelasikan hasil-hasil yang dicapai dalam tes tersebut dengan hasil-hasil yang dicapai dalam tes yang sejenis yang telah diketahui mempunyai validitas yang tinggi (misalnya tes standar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Construct Validity (validitas konstruk/susunan teori)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu ketepatan suatu tes ditinjau dari susunan tes tersebut. Misalnya kalau kita ingin memberikan tes kecakapan ilmu pasti, kita harus membuat soal yang ringkas dan jelas yang benar-benar akan mengukur kecakapan ilmu pasti, bukan mengukur kemampuan bahasa karena soal itu ditulis secara berkepanjangan dengan bahasa yang sulit dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Reliabilitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reliabilitas berasal dari kata reliable yang berarti dapat dipercaya. Reliabilitas suatu tes menunjukan atau merupakan sederajat ketetapan, keterandalan atau kemantapan (the level of consistency) tes yang bersangkutan dalam mendapatkan data (skor) yang dicapai seseorang, apabila tes tersebut diberikan kepadanya pada kesempatan (waktu) yang berbeda., atau dengan tes yang pararel (eukivalen) pada waktu yang sama. Atau dengan kata lain sebuah tes dikatakan reliable apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukan ketetapan, keajegan, atau konsisten. Artinya, jika kepada para siswa diberikan tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan tetap berada dalam urutan (ranking) yang sama dalam kelompoknya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5975597218828598742-3042188583773502439?l=tomie-education.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tomie-education.blogspot.com/feeds/3042188583773502439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5975597218828598742&amp;postID=3042188583773502439' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/3042188583773502439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/3042188583773502439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tomie-education.blogspot.com/2008/10/evaluasi-pembelajaran.html' title='EVALUASI PEMBELAJARAN'/><author><name>Tomie Yasanda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11149146580229876594</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5975597218828598742.post-1305575139219753848</id><published>2008-10-27T23:40:00.000-07:00</published><updated>2008-10-30T08:00:32.189-07:00</updated><title type='text'>PENDEKATAN REALISTIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA</title><content type='html'>A. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini masih banyak orang yang menganggap bahwa matematika tidaklah lebih dari sekedar berhitung dan bermain dengan rumus dan angka-angka. Melalui suatu angket yang dilaksanakan oleh Hendra Gunawan (Pikiran Rakyat, 1998, yang dimuat dalam www.geocities.com/ratuilma/linkframeset_indo.htm1 ), ditanyakan kepada sejumlah mahasiswa baru yang pada waktu itu baru saja diterima di Perguruan Tinggi terkemuka di negara kita, “Menurut Anda, matematika itu apa ? “ Jawaban yang diperoleh hampir seragam, yaitu matematika adalah ilmu hitung-menghitung yang senantiasa berurusan dengan rumus dan angka-angka. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini kita mungkin menerima begitu saja pengajaran matematika di sekolah, tanpa mempertanyakan mengapa atau untuk apa matematika harus diajarkan. Tidak jarang muncul keluhan bahwa matematika cuma bikin pusing siswa (dan juga orang tuanya) dan dianggap sebagai momok yang menakutkan oleh sebagian siswa. Begitu beratnya gelar yang disandang matematika yang membuat kekawatiran pada prestasi belajar matematika siswa. Faktor lain yang juga ikut mempengaruhi rasa bosan pada matematika adalah faktor penyampaian materi atau metode pembelajaran matematika yang monoton dan itu-itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matematika adalah ilmu yang berkembang sejak ribuan tahun lalu dan masih tumbuh subur hingga kini. Tidak mungkin bisa semuanya diajarkan kepada siswa di sekolah. Jadi, seharusnya bukan materi yang kita kejar, tetapi tujuannya. Penting untuk diingat oleh penyusun kurikulum matematika, juga guru di lapangan, agar materi tidak terlalu padat, sehingga siswa punya waktu cukup untuk mengendapkan apa yang telah diperoleh dan mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, matematika adalah pemecahan masalah karena itu, matematika sebaik -nya diajarkan melalui berbagai masalah yang ada disekitar siswa dengan memperhatikan usia dan pengalaman yang mungkin dimiliki siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan tujuan/keinginan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap matematika dan meminimalkan anggapan-anggapan negatif terhadap matematika yang membuat para ahli pendidikan matematika di Indonesia berupaya mencari terobosan baru menemukan metode pembelajaran matematika lain dengan mengacu pada pengalaman di negara lain dan dengan melihat karakteristik yang dimungkinkan dapat diujicobakan juga di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 3 pendekatan yang cukup mendasar, yaitu “pemecahan masalah” atau “problem solving” yang mendapat keutamaan di Jepang, “contextual teaching and learning” ataupun “connected mathematics” yang mulai dilaksanakan di sebagian Amerika dan “Realistic Mathematics Education” yang sudah melalui proses ujicoba dan penelitian lebih dari 25 tahun di Belanda.(R.Soedjadi,2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Realistic Mathematics Education&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu faktor penyebab rendahnya pengertian siswa terhadap konsep-konsep mate -matika adalah pola pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Pembelajaran matematika di Indonesia dewasa ini, “dunia nyata” hanya digunakan untuk mengaplikasikan konsep dan kurang mematematisasi “dunia nyata”. Bila dalam pembelajaran di kelas, pengalaman anak sehari-hari dijadikan inspirasi penemuan dan pengkonstruksian konsep (pematematisasian pengalaman sehari-hari) dan mengaplikasikan kembali ke “dunia nyata” maka anak akan mengerti konsep dan dapat melihat manfaat matematika. (I Gusti Putu Suharta, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realistic Mathematics Education adalah suatu teori dalam pendidikan matematika yang berdasarkan pada ide bahwa matematika adalah aktivitas manusia dan matematika harus dihubungkan secara nyata terhadap konteks kehidupan sehari-hari siswa sebagai suatu sumber pengembangan dan sebagai area aplikasi melalui proses matematisasi baik horizontal maupun vertikal. (www.geocities.com/Athens/crete).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Realistic Mathematics Education pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda sejak 31 tahun lalu (sejak tahun 1970) oleh Institut Freudenthal dan menunjuk -kan hasil yang baik, berdasarkan hasil The Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2000. (Ahmad Fauzan, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Freudenthal (Ahmad Fauzan, 2001), aktivitas pokok yang dilakukan dalam Realistic Mathematics Education meliputi : menemukan masalah-masalah/ soal-soal kontekstual (looking for problems), memecahkan masalah (solving problems), dan mengorganisir bahan ajar (organizing a subject matter). Hal ini dapat berupa realitas-realitas yang perlu diorganisir secara matematis dan juga ide-ide matematika yang perlu diorganisir dalam konteks yang lebih luas. Kegiatan pengorganisasian seperti ini disebut matematisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Realistic Mathematics Education, siswa belajar mematematisasi masalah-masalah kontekstual. Dengan kata lain, siswa mengidentifikasi bahwa soal kontekstual harus ditransfer ke dalam soal bentuk matematika untuk lebih dipahami lebih lanjut, melalui penskemaan, perumusan dan pemvisualisasian. Hal tersebut merupakan proses matematisasi horizontal. Sedangkan matematisasi vertikal, siswa menyelesaikan bentuk matematika dari soal kontekstual dengan menggunakan konsep, operasi dan prosedur matematika yang berlaku dan dipahami siswa.(Dian Armanto, 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dalam matematisasi horizontal berangkat dari dunia nyata masuk ke dunia symbol sedangkan matematisasi vertikal berarti proses/pelaksanaan dalam dunia symbol. (www.geocities.com/ratuilma/rme).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realistic Mathematics Education mempunyai lima karakteristik (www.geocities.com/ Athens/crete), yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. menggunakan konteks yang real terhadap siswa sebagai titik awal untuk belajar.&lt;br /&gt;   2. menggunakan model sebagai suatu jembatan antara real dan abstrak yang membantu siswa belajar matematika pada level abstraksi yang berbeda.&lt;br /&gt;   3. menggunakan produksi siswa sendiri atau strategi sebagai hasil dari mereka “ doing mathematics”.&lt;br /&gt;   4. interaksi adalah penting untuk belajar matematika antara guru dan siswa, siswa dan siswa.&lt;br /&gt;   5. keterkaitan antara unit-unit matematika dan masalah-masalah yang ada dalam dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam RME, mengambil sesuatu dari dunia nyata, mematematisasinya dan merefleksi -kan, kemudian membawanya kembali ke dunia nyata, yang oleh De Lange (1987) disebut sebagai matematisasi konseptual dan aplikasi digambarkan dalam skema berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstraksi dan Formalisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Zulkardi (www.geocities.com) ide berikut ini dapat digunakan bila memulai pelajaran menggunakan metode realistik :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Materi RME lebih dari sekedar menghitung yaitu membangun kemampuan berpikir dan berargumentasi yang dapat dipakai oleh siswa selamanya. Materi yang dipakai berbeda dengan materi lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Kebanyakan soal dapat diselesaikan lebih dari satu strategi atau solusi. Tujuannya adalah untuk mendiskusikan perbedaan strategi memutuskan mana yang terbaik untuk soal itu. Dalam contoh guru akan menanya siswa tertentu untuk menjelaskan idenya dan di lain waktu siswa tertentu akan diminta mendengarkan dan menganalisa jawaban temannya.&lt;br /&gt;   3. Siswa bisa bekerja sendiri atau berdua atau dalam grup kecil untuk mendapat kesempatan banyak menjelaskan pikiran dan pengertiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suksesnya implementasi materi RME tergantung pada kemampuan guru untuk membuat suatu iklim di mana siswa mau mencoba berpikir dengan cara baru dan mengkomunikasi -kan apa yang dihasilkannya. Jika guru menghargai perbedaan jawaban siswa, maka siswa akan respek untuk mencoba idenya. Untuk memberi semangat atau motivasi di antara siswa, perlu juga menggunakan perkataan seperti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar penjelasan temanmu, atau, Bagaimana hal ini berbeda dengan jawabanmu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mereka kesulitan di grupnya, maka diskusi kelas akan membantu. Terutama hal evaluasi strategi mana yang paling cocok untuk suatu masalah. (www.geocities.com/Athens/crete)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pelaksanaan RME di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan keberhasilan Belanda dan negara-negara lain dalam pendidikan matematika dengan menggunakan pendekatan realistic (RME), maka ditempuh langkah awal dengan mengembangkan pilot proyek implementasi pembelajaran matematika realistic di Bandung, Yogyakarta dan Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ahli pendidikan matematika di Indonesia telah sepakat menggunakan nama PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) untuk pendekatan baru yang sedang diujicobakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini diberikan hasil pelaksanaan uji coba PMRI yang dilaksanakan di Yogyakarta yaitu SD Kanisius Demangan Baru dan MIN Yogyakarta II (berdasarkan hasil workshop pengembangan pembelajaran matematika secara realistik tanggal 4 – 11 Juli 2001 di P3G Matematika di Yogyakarta, yang disampaikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika Realistik pada tanggal 14-15 November 2001) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Proses belajar mengajar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Siswa belajar secara individual (atau berkelompok) dengan menyelesaikan masalah-masalah yang sudah disiapkan guru dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Beberapa siswa disuruh maju ke depan kelas menjelaskan bagaimana dia menyelesaikan suatu soal dengan caranya sendiri/meragakannya dengan menggunakan alat peraga yang telah disiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Guru memotivasi siswa menemukan sendiri cara mereka dan berani mengemukakan caranya itu kepada teman dalam kelompok atau di depan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keunggulan yang diperoleh dari pengalaman kedua sekolah tersebut selama melakukan uji coba terbatas dapat disarikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Suasana dalam proses pembelajaran menyenangkan karena menggunakan realitas yang ada disekitar siswa.&lt;br /&gt;   2. Karena siswa membangun sendiri pengetahuannya maka siswa tidak mudah lupa dengan materi.&lt;br /&gt;   3. Siswa merasa dihargai dan semakin terbuka karena setiap jawaban ada nilainya.&lt;br /&gt;   4. Melatih siswa untuk terbiasa berpikir dan berani mengemukakan pendapat.&lt;br /&gt;   5. Pendidikan budi pekerti, misal : saling kerjasama dan menghormati teman yang sedang berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kelemahan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. karena sudah terbiasa diberi informasi terlebih dahulu maka siswa masih kesulitan dalam menemukan sendiri jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. untuk memahami satu materi pelajaran dibutuhkan waktu yang cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. membutuhkan alat peraga yang sesuai dengan situasi pembelajaran saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. belum ada pedoman penilaian , sehingga guru merasa kesulitan dalam evaluasi/memberikan nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian berkaitan dengan pengalaman yang diperoleh dari hasil pelaksanaan ujicoba pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik di Yogyakarta (Sutarto Hadi, 2001) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Materi kurikulum PMRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlukan materi kurikulum dengan konteks Indonesia. Mengembangkan sendiri materi kurikulum PMRI dengan konteks Indonesia akan memakan waktu yang panjang karena harus melalui rangkaian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. olah pikir (pengembang mendesain materi PMR yang relevan dengan kurikulum yang berlaku)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. ujicoba dengan kelompok kecil siswa (oleh pengembang sendiri).&lt;br /&gt;   3. revisi berdasarkan hasil uji coba skala kecil.&lt;br /&gt;   4. uji coba oleh guru di kelas; dan&lt;br /&gt;   5. revisi berdasarkan hasil uji coba di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan pengembangan materi kurikulum PMR beberapa hal berikut perlu mendapat perhatian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. konteks yang dipilih harus dikenal baik oleh siswa&lt;br /&gt;   2. bahasa yang digunakan harus sederhana dan jelas&lt;br /&gt;   3. gambar harus mendukung konsep&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila upaya mengembangkan sendiri materi tidak memungkinkan dalam waktu singkat, dapat dilakukan adaptasi terhadap materi PMR yang sudah ada. Namun ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. tidak setiap konteks dapat langsung diadopsi.&lt;br /&gt;   2. Apabila konteks yang ingin diadaptasi dirasa cukup dikenal, selanjutnya adalah penerjemahan soal yang menyertai konteks tersebut.&lt;br /&gt;   3. Sedapat mungkin konteks dapat menjelaskan pesan yang ingin disampaikan tanpa penjelasan lisan.&lt;br /&gt;   4. Gambar dapat mempengaruhi siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Persepsi Guru tentang PMRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi yang akan diuraikan ini adalah persepsi guru selama pelatihan PMR :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sebagian besar guru matematika mempunyai tanggapan yang positif, PMR dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Guru dapat melihat proses belajar dan berpikir matematika dalam menemukan konsep yang dipelajari siswa.&lt;br /&gt;   3. PMR memberikan harapan kepada guru dalam menghadapi persoalan berkaitan dengan manfaat belajar matematika.&lt;br /&gt;   4. Kehadiran PMR dirasakan oleh guru dapat mengubah pendekatan yang kering dan mekanistik menjadi lebih menyenangkan dan bermakna baik bagi guru maupun para siswa.&lt;br /&gt;   5. Bagi sebagian guru kehadiran PMR ditanggapan dengan kekawatiran.&lt;br /&gt;   6. Guru merasa lebih aman jika PMR diterapkan hanya untuk topik-topik tertentu dan diberikan sebagai selingan dari materi dan metode yang sudah biasa diterapkan oleh guru selama ini.&lt;br /&gt;   7. Bagi guru PMR tidak akan berhasil apabila sistem penilaian masih menggunakan sistem EBTANAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Reaksi Siswa terhadap PMR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya perubahan reaksi siswa karena perubahan orientasi pendidikan dari “teacher- centered learning” ke “pupil-centered learning”, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Bagi sebagian siswa, PMR tidak mudah dan menjadikan frustasi, karena siswa terbiasa selalu menerima penjelasan dari guru dan tidak terbiasa untuk berpikir kreatif dan mempelajari sendiri atau menemukan sendiri konsep yang dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   2. Perubahan yang sangat ekstrim yang ditanggapi siswa ada dua kategori yaitu lebih menuntut (cenderung negatif) yang dimaknai sebagai memaksa siswa untuk berpikir dan bekerja matematika yang lebih keras dan memeras energi, dan lebih menantang (cenderung positif) yang dimaknai sebagai membangkitkan motivasi siswa untuk belajar sehingga tidak bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Armanto, Dian. 2001. “Alur Pembelajaran Perkalian dan Pembagian Dua Angka dalam Pendidikan Matematika Realistik (PMR).”, disajikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika Realistik di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 14- 15 November 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fauzan, Ahmad. 2001. “ Pendidikan Matematika Realistik: Suatu Tantangan dan Harapan.” , disajikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika Realistik di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 14- 15 November 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadi, Sutarto. 2001. ‘PMRI : Beberapa Catatan Sebelum Melangkah Lebih Jauh.”, disajikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika Realistik di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 14 – 15 November 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maier, Herman. 1985. Kompendium Didaktik Matematika. Bandung : CV Remadja Karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marpaung, Y. 2001. Pendekatan Realistik dan Sani dalam Pembelajaran Matematika, disajikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika Realistik di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 14 – 15 November 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratini, dkk. 2001. Pengalaman dalam Melaksanakan Uji Coba Pembelajaran Matematika secara Realistik di MIN Yogyakarta II, disajikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika Realistik di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 14 – 15 November 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soedjadi, R. 2001. Pembelajaran Matematika Berjiwa RME, disajikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika Realistik di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 14 – 15 November 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suharta, I Gusti Putu. 2001. “Penerapan Pembelajaran Matematika Realistik untuk Mengembangkan Pengertian Siswa.”, disajikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika Realistik di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 14- 15 November 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutarsih, Ignatia. 2001. Pengalaman dalam Uji Coba Pembelajaran Matematika secara Realistik, disajikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika Realistik di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 14 – 15 November 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5975597218828598742-1305575139219753848?l=tomie-education.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tomie-education.blogspot.com/feeds/1305575139219753848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5975597218828598742&amp;postID=1305575139219753848' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/1305575139219753848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5975597218828598742/posts/default/1305575139219753848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tomie-education.blogspot.com/2008/10/pendekatan-realistik-dalam-pembelajaran.html' title='PENDEKATAN REALISTIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA'/><author><name>Tomie Yasanda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11149146580229876594</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
